Jakarta, Gonesia.com – Bank Indonesia (BI) memperketat langkah mitigasi ekonomi melalui serangkaian kebijakan moneter jangka pendek guna meredam dampak negatif dari eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Langkah strategis ini diprioritaskan untuk menjaga stabilitas makroekonomi domestik, khususnya dalam mengendalikan volatilitas nilai tukar rupiah serta memastikan kecukupan likuiditas pasar.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa otoritas moneter dituntut untuk bersikap responsif terhadap dinamika global yang tidak menentu.
“Bank Indonesia tentunya perlu membuat suatu kebijakan yang sifatnya memang jangka pendek untuk mencapai stabilitas. Dalam hal ini adalah kita bicara nilai tukar. Dan kebijakan tentu satu nilai tukar dan kedua likuiditas,” ujar Destry dalam keterangannya di Jakarta, Senin (29/6), dikutip dari transkrip resmi konferensi pers Bank Indonesia.
Sebagai instrumen utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar, BI telah melakukan penyesuaian suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 100 basis poin, sehingga kini berada di level 5,75 persen.
Kebijakan pengetatan moneter ini segera diikuti dengan penyesuaian harga atau repricing pada berbagai instrumen investasi strategis.
Instrumen yang terdampak meliputi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) serta Surat Berharga Negara (SBN) yang diterbitkan pemerintah.
Langkah proaktif ini terbukti efektif dalam menarik minat investor global untuk kembali menanamkan modalnya ke pasar keuangan Indonesia.
Data BI mencatat aliran modal asing atau capital inflow yang masuk cukup signifikan sepanjang tahun berjalan hingga 26 Juni 2026.
Total dana yang mengalir ke portofolio SRBI dan SBN tercatat telah mencapai angka sekitar USD 9 miliar.
Destry menilai capaian tersebut merupakan indikator positif atas kepercayaan investor internasional terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
“Jadi itu pertama tentunya confidence dari offshore yang tentu juga akan tercermin dari confidence ke masyarakat kita di Indonesia,” ucapnya sebagaimana tercatat dalam laporan resmi Bank Indonesia.
Selain fokus pada suku bunga, otoritas moneter juga melakukan penguatan likuiditas secara besar-besaran di pasar domestik.
BI secara konsisten memperluas likuiditas melalui berbagai instrumen operasi moneter untuk menopang stabilitas sektor keuangan.
Tercatat, ekspansi likuiditas yang dilakukan BI melonjak drastis dari kisaran Rp600 triliun pada akhir Mei menjadi Rp1.000 triliun per akhir Juni.
Peningkatan tajam ini dilakukan demi menjamin ketersediaan dana agar tidak terjadi guncangan harga yang berarti di pasar uang maupun pasar valuta asing.
“Khusus itu untuk menjaga likuiditas agar tidak terjadi gejolak harga di pasar uang dan pasar valas kita,” jelas Destry dalam pernyataan tertulis kepada media.
Kebijakan ini diharapkan mampu menjadi bantalan bagi ekonomi Indonesia dalam menghadapi tekanan eksternal yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik global yang masih terus berlangsung hingga saat ini.

