Manama, Gonesia.com – Stabilitas kawasan Teluk kembali berada di titik nadir setelah eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran meletus secara terbuka.
Serangkaian serangan rudal dan drone yang saling berbalas kini mengancam jalur perdagangan energi paling vital di dunia, Selat Hormuz.
Ketegangan mencapai puncak baru menyusul serangan udara Amerika Serikat terhadap fasilitas militer Iran di bagian selatan.
Operasi Washington tersebut menyasar infrastruktur pengawasan maritim, sistem pertahanan udara, hingga fasilitas penyimpanan drone milik Iran.
Central Command Amerika Serikat menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan respons terukur terhadap agresi Iran yang dinilai mengancam kapal-kapal dagang internasional.
Sebagai balasan langsung, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal yang menyasar Bahrain dan Kuwait.
Dua negara tersebut menjadi target karena kedekatan geografisnya dengan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan.
Pemerintah Kuwait mengonfirmasi keberhasilan sistem pertahanan mereka dalam mencegat dua rudal balistik tanpa adanya laporan korban jiwa.
Sebaliknya, otoritas Bahrain melaporkan kerusakan pada sebuah gedung residensial di dekat bandara internasional akibat serangan tersebut.
Dampak konflik ini juga dirasakan oleh Qatar, di mana satu warga negara dilaporkan tewas akibat terkena serpihan insiden militer.
The Guardian dalam laporannya pada Senin (29/6/2026) menyebut rangkaian aksi militer ini telah meruntuhkan kesepakatan damai sementara yang dibangun melalui negosiasi tidak langsung.
Ketidakpastian ini diperparah dengan ancaman Iran untuk memutus seluruh proses perundingan diplomatik di masa depan.
Perselisihan mengenai tata kelola Selat Hormuz menjadi akar utama dari kebuntuan yang terjadi saat ini.
Washington bersikeras mendorong pembukaan jalur selatan melalui Oman untuk menjaga arus logistik global.
Sebaliknya, Tehran menuntut agar jalur utara berada di bawah pengawasan langsung dan kendali militer Iran.
Terdapat wacana penerapan biaya melintas bagi kapal-kapal komersial yang ingin melewati wilayah tersebut menurut pandangan Tehran.
Perbedaan visi ini membuat ratusan kapal tanker kini terjebak di tengah ketidakpastian keamanan Teluk.
Insiden terhadap kapal tanker berbendera Panama, Kiku, serta kapal kontainer asal Singapura semakin memperkeruh situasi di jalur pelayaran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, saat melakukan kunjungan ke Baghdad, menegaskan penolakan keras negaranya terhadap intervensi asing.
“Segala upaya untuk mengubah pengaturan yang ada hanya akan memperburuk situasi dan menunda pembukaan kembali Selat Hormuz serta meningkatkan ketegangan,” tegas Abbas Araghchi, dikutip dari The Guardian, Senin (29/6/2026).
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bahkan melayangkan ancaman terbuka terhadap keberadaan militer Amerika Serikat.
IRGC memperingatkan bahwa pangkalan militer AS di kawasan tersebut akan berubah menjadi neraka jika gencatan senjata kembali dilanggar.
Di sisi lain, seorang pejabat Amerika Serikat mengungkapkan adanya upaya komunikasi untuk meredam suhu konflik.
Ia menyatakan bahwa “kedua pihak akan menghentikan sementara dan kapal-kapal dapat bergerak bebas,” merujuk pada nota kesepahaman 14 poin yang sempat dibahas sebelumnya, dikutip dari The Guardian, Senin (29/6/2026).
Konflik ini juga mulai menunjukkan efek domino di luar wilayah Teluk, termasuk di Lebanon.
Kematian seorang tentara Israel dalam bentrokan di perbatasan selatan Lebanon menjadi indikator bahwa krisis ini telah meluas ke berbagai front.
Upaya diplomasi internasional saat ini menghadapi tantangan besar untuk mencegah konflik terbuka yang lebih luas.

