News

Pemerintah Tingkatkan Jalur KRL Rangkasbitung, Frekuensi Perjalanan Kereta Bertambah

Jakarta – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menargetkan percepatan proyek elektrifikasi pada jalur kereta rel listrik (KRL) lintas Tanah Abang-Rangkasbitung atau yang dikenal sebagai greenline. Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas lonjakan volume penumpang yang terus meningkat setiap tahun, sementara kapasitas infrastruktur listrik saat ini dinilai sudah tidak memadai untuk menampung beban operasional yang ada.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan bahwa proyek peningkatan kapasitas ini telah masuk dalam daftar prioritas PT Kereta Api Indonesia (Persero). Pihaknya menargetkan seluruh rangkaian perbaikan infrastruktur, termasuk penggantian gardu listrik di sepanjang 70 kilometer jalur tersebut, dapat dirampungkan pada tahun 2027 mendatang.

“Saya berharap bisa cepat dimulai dan mudah-mudahan bisa selesai pada 2027,” ujar Dudy dalam sesi media briefing di Jakarta Selatan, Jumat (26/6).

Dudy menjelaskan bahwa peningkatan elektrifikasi merupakan prasyarat mutlak untuk menambah kapasitas angkut penumpang. Dengan daya listrik yang lebih besar, operator nantinya dapat mengoperasikan rangkaian kereta yang lebih panjang, yakni mencapai 12 gerbong (SF12), serupa dengan standar pelayanan pada jalur lintas Bekasi. Meski demikian, ia mengakui bahwa realisasi proyek ini tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat mengingat besarnya kompleksitas dan dinamika teknis di lapangan.

Di sisi lain, Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyiddin, mengungkapkan urgensi proyek ini didorong oleh tingkat okupansi penumpang di jalur Tanah Abang-Rangkasbitung yang kini telah mencapai 161 persen. Angka tersebut menunjukkan kepadatan yang ekstrem, yang jika tidak segera diatasi, akan berdampak pada penurunan kualitas layanan dan kenyamanan pengguna jasa transportasi massal.

Aksi Mulia Arda Guler Biayai Kuliah Putri Sopir Pribadinya

Menurut Bobby, kendala utama yang menghambat penambahan gerbong kereta saat ini terletak pada keterbatasan pasokan daya listrik. Jalur Rangkasbitung saat ini tercatat hanya memiliki daya sekitar 3.000, angka yang jauh lebih rendah dibandingkan jalur Bogor atau Bekasi yang telah mencapai 4.000. Keterbatasan daya inilah yang membuat upaya rekayasa operasi untuk menjalankan rangkaian SF12 selama ini tidak membuahkan hasil optimal.

Sebagai solusi konkret, KAI berencana membangun 11 gardu traksi baru untuk memperkuat daya listrik aliran atas (LAA). Proyek pembangunan gardu ini dijadwalkan mulai dikerjakan dalam waktu dekat. Selain peningkatan daya, modernisasi sistem persinyalan juga menjadi fokus utama. Saat ini, lintas Tanah Abang-Rangkasbitung masih mengandalkan sistem blok tertutup yang membatasi jarak waktu antar kereta atau headway di kisaran 10 menit.

Melalui integrasi antara modernisasi sistem persinyalan dan peningkatan kapasitas listrik, KAI optimistis dapat memangkas waktu tunggu antar kereta sekaligus meningkatkan frekuensi perjalanan. Langkah ini diharapkan mampu mengurai kepadatan penumpang yang kerap menumpuk di stasiun-stasiun sepanjang jalur tersebut, sekaligus memberikan kepastian waktu tempuh yang lebih efisien bagi masyarakat pengguna transportasi publik di wilayah penyangga Jakarta.

Komentar
Gempa Kembar Guncang Venezuela, Korban Jiwa Diprediksi Capai 10 Ribu Orang

Berita Populer

01

KCIC Tambah Enam Perjalanan Whoosh, Arus Balik Bandung-Jakarta Padat

02

DSI Perkuat Tata Kelola Ekspor dan Devisa Nasional

03

Pemko Padang Optimalkan Digitalisasi Bansos Tepat Sasaran

04

Strategi ANTM Perkuat Pasar Domestik di Tengah Rencana Ekspor BUMN

05

Purbaya Tekankan Pancasila dalam Kelola Keuangan Negara

06

Kejagung Geledah Kantor BGN Pusat Jakarta Usai Ganti Pimpinan

07

Warga Jakarta Berbondong-Bondong Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan

08

Aher Apresiasi Dukcapil Hentikan Fotokopi e-KTP Demi Data Pribadi

Berita Terbaru