Lampung Timur – Dunia konservasi satwa dilindungi di Indonesia kehilangan salah satu sosok paling berjasa dalam upaya mitigasi konflik gajah sumatra. Indra, gajah jantan berusia 42 tahun yang telah mengabdi lebih dari tiga dekade di Pusat Latihan Gajah (PLG) Taman Nasional Way Kambas (TNWK), dinyatakan mati pada Senin (22/6) pukul 11.06 WIB setelah berjuang melawan penurunan kondisi fisik yang cukup lama.
Kematian gajah yang menjadi ikon konservasi di Lampung ini meninggalkan duka mendalam bagi para petugas lapangan dan mahout yang selama ini mendampinginya. Kepala Balai TNWK, MHD. Zaidi, menegaskan bahwa Indra bukan sekadar satwa binaan, melainkan bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang perlindungan satwa liar di kawasan hutan Way Kambas. Dedikasinya dalam berbagai operasi lapangan, mulai dari evakuasi gajah liar hingga patroli perlindungan kawasan, menjadi kontribusi nyata yang diakui oleh pihak balai.
“Dedikasinya dalam berbagai kegiatan lapangan dan penanganan konflik satwa liar telah memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian gajah sumatra,” ujar Zaidi dalam keterangan resmi yang dirilis Jumat (26/6).
Riwayat kesehatan Indra mulai mengalami kemunduran signifikan sejak tahun 2017. Saat itu, gajah tersebut mengalami kecelakaan lalu lintas ketika sedang dalam perjalanan pulang usai menjalankan tugas membantu penanganan konflik satwa di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan. Insiden tersebut mengakibatkan cedera fisik yang serius, dengan diagnosis medis awal mengarah pada gangguan ruas tulang belakang atau suspect ruptur os vertebrae. Akibat cedera tersebut, Indra terpaksa dipensiunkan lebih awal dari tugas-tugas lapangan yang berat.
Selama masa pensiunnya, tim dokter hewan dan perawat satwa di TNWK memberikan perhatian khusus berupa perawatan intensif, terapi rutin, dan pemantauan harian. Meski upaya medis terus dilakukan untuk menjaga kualitas hidupnya, faktor usia dan dampak cedera masa lalu membuat kondisi fisik Indra terus menurun secara bertahap.
Momen kritis terjadi pada Minggu (21/6) sore saat Indra sedang melakukan aktivitas rutin di area rawa. Ketika mahout berusaha membimbingnya kembali ke kandang, gajah tersebut tiba-tiba ambruk dan kehilangan kemampuan untuk berdiri. Mahout Siswo bersama tim penyelamat segera melakukan upaya darurat dengan bantuan gajah jinak lainnya, namun usaha tersebut tidak membuahkan hasil karena kondisi fisik Indra yang sudah sangat lemah.
Mengingat medan rawa yang sulit dijangkau untuk evakuasi ke fasilitas medis utama, tim dokter hewan memutuskan untuk melakukan tindakan medis darurat langsung di lokasi kejadian. Setelah berjuang selama lebih dari 20 jam dalam upaya penyelamatan intensif, Indra akhirnya tidak tertolong.
Sebagai bagian dari prosedur standar operasional medis dan akuntabilitas ilmiah, tim medis melakukan tindakan nekropsi tiga jam setelah kematian Indra. Pihak balai mengambil sejumlah sampel organ untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium guna memastikan faktor klinis penyebab pasti kematian. Setelah rangkaian pemeriksaan selesai, jasad Indra dimakamkan di lokasi khusus yang berada di dalam kawasan TNWK sebagai bentuk penghormatan terakhir atas pengabdiannya selama hidup.

