Shanghai – Industri telekomunikasi global kini berada di ambang transformasi struktural seiring dengan integrasi kecerdasan buatan (AI) yang masif.
Para operator seluler diproyeksikan akan beralih dari sekadar penyedia layanan konektivitas data menjadi entitas ekonomi berbasis monetisasi token AI, sebuah model pendapatan baru yang mengandalkan pemrosesan karakter atau kata dalam sistem AI sebagai basis penagihan.
Presiden Huawei Carrier Business, Eric Yang, dalam ajang Mobile World Congress (MWC) Shanghai, menekankan bahwa AI telah menjadi katalisator produktivitas baru.
Menurutnya, ledakan konsumsi token oleh pengguna sistem seperti OpenAI atau Gemini menuntut operator untuk menangkap peluang bisnis ini guna mempertahankan relevansi di pasar digital yang semakin personal dan cerdas.
“AI telah menjadi faktor produktivitas baru yang mendorong pertumbuhan pesat konsumsi token,” ujar Eric Yang dalam paparannya, Jumat (26/6).
Strategi monetisasi ini bergantung pada keunggulan basis pelanggan yang dimiliki operator telekomunikasi. Dengan memanfaatkan data penggunaan harian, operator dapat mentransformasi layanan standar seperti telepon dan internet menjadi asisten komunikasi berbasis AI yang proaktif.
Hal ini memungkinkan terciptanya ekosistem di mana perangkat pintar dapat berkoordinasi secara otomatis, memberikan pengalaman yang lebih personal bagi konsumen, mulai dari pengelolaan perangkat rumah tangga hingga dukungan asisten virtual yang terintegrasi.
Namun, transisi model bisnis ini menuntut kesiapan infrastruktur komputasi yang jauh lebih mumpuni. Huawei mengusulkan strategi penguatan jaringan melalui lima lapisan fundamental agar operator mampu mendukung layanan AI berskala besar.
Pertama, jaringan harus ditingkatkan kapasitas uplink-nya untuk menjamin interaksi manusia dan AI secara real-time tanpa hambatan. Kedua, pembangunan jaringan komputasi (computing network) yang efisien antarwilayah dengan latensi rendah dan perlindungan data yang ketat.
Ketiga, Huawei mendorong pengembangan arsitektur supernode yang mengintegrasikan komputasi, penyimpanan, dan jaringan dalam satu sistem untuk efisiensi tinggi.
Keempat, optimalisasi pusat data AI yang hemat energi melalui otomatisasi pemeliharaan berbasis AI. Terakhir, penyediaan platform layanan model AI yang memungkinkan operator mengelola model AI dalam skala luas guna mempermudah proses monetisasi token secara efisien.
Dalam ajang tersebut, Huawei juga memperkenalkan konsep AI-Centric Target Network. Arsitektur ini dirancang khusus untuk membantu operator beralih dari pendekatan tradisional yang hanya berfokus pada volume lalu lintas data (traffic-centric) menuju jaringan yang dirancang untuk mendukung interaksi real-time. Melalui teknologi 5G-Advanced (5G-A), operator kini memiliki kemampuan untuk melakukan monetisasi pengalaman pengguna secara lebih presisi.
Dengan dukungan konektivitas berkualitas tinggi dan jaminan kualitas layanan yang lebih stabil, operator diharapkan mampu memenangkan persaingan dalam ekosistem ekonomi token yang diprediksi akan mendominasi pasar telekomunikasi di masa depan.
Langkah ini menjadi krusial bagi operator untuk tetap kompetitif di tengah pergeseran paradigma teknologi yang semakin menuntut integrasi antara infrastruktur fisik dan kecerdasan buatan.

