Jakarta – PT Ciputra Development Tbk (CTRA) menetapkan pembagian dividen tunai senilai Rp 667,28 miliar kepada para pemegang saham untuk tahun buku 2025. Keputusan ini diambil setelah perusahaan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 2,66 triliun pada periode tersebut, dengan nilai dividen per saham yang dibagikan mencapai Rp 36.
Investor Relationship CTRA, Aditya Ciputra Sastrawinata, menyatakan bahwa pembagian dividen ini mencerminkan komitmen perusahaan kepada pemegang saham di tengah dinamika pasar properti. “Jadi dividen yield-nya sekitar 6,4%,” ujar Aditya saat ditemui usai gelaran Public Expose, Jumat (26/6).
Besaran dividen tahun ini menunjukkan tren peningkatan dibandingkan tahun buku 2023, di mana perusahaan membagikan dividen sebesar Rp 21 per saham, dan tahun sebelumnya di angka Rp 24 per saham. Selain pembagian dividen, perusahaan mengalokasikan Rp 1,99 triliun dari laba bersih sebagai laba ditahan, sementara Rp 1 triliun lainnya dialokasikan untuk dana cadangan.
Meski kebijakan dividen menunjukkan peningkatan, performa saham CTRA di bursa efek justru mengalami tekanan. Pada perdagangan hari yang sama, harga saham CTRA ditutup terkoreksi 3,45 persen atau turun 20 poin ke posisi Rp 560 per lembar. Secara akumulatif sejak awal tahun (year to date), saham emiten properti ini telah mengalami koreksi sebesar 32,53 persen.
Kinerja keuangan perusahaan juga menunjukkan tantangan signifikan pada awal tahun 2026. Pada kuartal pertama 2026, CTRA mencatatkan laba bersih sebesar Rp 518,30 miliar, merosot 21,57 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 660,4 miliar. Sejalan dengan penurunan laba, pendapatan perusahaan juga mengalami kontraksi menjadi Rp 2,55 triliun dari sebelumnya Rp 2,73 triliun secara tahunan.
Manajemen memproyeksikan tren penurunan laba bersih dan pendapatan akan berlanjut sepanjang tahun 2026 dengan estimasi koreksi mencapai 10 persen secara tahunan. Aditya menjelaskan bahwa proyeksi ini berkaitan erat dengan perlambatan penjualan properti, khususnya pada segmen residensial. Sementara itu, target penjualan pra-penjualan (pre-sales) tahun ini diproyeksikan stagnan di angka Rp 9,5 triliun, sama dengan target tahun sebelumnya.
“Jadi penurunan pendapatan di perusahaan properti mengikuti pre-sales tahun sebelumnya. Kalau pre-sales tahun 2025 turun, pendapatan 2026 turun juga,” jelas Aditya.
Dia menambahkan bahwa faktor utama yang memicu perlambatan pre-sales adalah penurunan daya beli masyarakat, terutama pada segmen menengah ke bawah. Meski sektor properti investasi seperti mal, rumah sakit, dan klinik menunjukkan pertumbuhan positif, kontribusi dari segmen tersebut belum mampu sepenuhnya menutupi penurunan kinerja di sektor residensial. Akibatnya, pendapatan bersih perusahaan diprediksi tetap akan terdampak oleh pelemahan di pasar hunian yang menjadi kontributor utama bisnis perusahaan.

