IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Prospek Saham Telekomunikasi Menarik, Simak Rekomendasi Analis Samuel Sekuritas

Grafik pergerakan harga saham sektor telekomunikasi di bursa efek Indonesia
Sektor telekomunikasi domestik menunjukkan potensi pertumbuhan positif pasca lelang spektrum frekuensi.

JAKARTA, Gonesia.com – Sektor telekomunikasi domestik kini mencatatkan momentum pertumbuhan yang menjanjikan seiring dengan selesainya lelang spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang digelar pemerintah pada 10 Juli 2026.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Jason Sebastian, menilai valuasi emiten telekomunikasi di Indonesia saat ini masih tergolong sangat murah dibandingkan dengan negara-negara di kawasan regional.

Berdasarkan riset yang dikutip Kontan, ia mengungkapkan bahwa sektor ini diperdagangkan pada estimasi EV/EBITDA 2027 sebesar 4,2 kali.

Angka tersebut tercatat sekitar 16% lebih rendah jika dibandingkan dengan valuasi perusahaan telekomunikasi di Filipina.

Kondisi fundamental yang atraktif ini mendorong Samuel Sekuritas untuk meningkatkan rekomendasi sektor ke level overweight.

Harta Djaya Karya (MEJA) Siapkan Rights Issue untuk Pendanaan Akuisisi

“Valuasi sektor telekomunikasi Indonesia masih menarik secara relatif, sehingga kami meningkatkan rekomendasi menjadi overweight,” ujarnya dalam riset tersebut, Rabu (22/7/2026).

Pemerintah sendiri baru saja merampungkan agenda lelang spektrum strategis yang menjadi katalis penting bagi dinamika industri ke depan.

Dalam proses lelang tersebut, Telkomsel berhasil keluar sebagai pemenang terbesar dengan perolehan total spektrum mencapai 100 MHz.

Pencapaian ini diproyeksikan akan memperkuat keunggulan jaringan perusahaan pelat merah tersebut dalam persaingan pasar.

Di sisi lain, Indosat sukses mengamankan 80 MHz untuk menjaga daya saing di tengah ketatnya pasar digital.

IHSG Menguat 9 Hari Beruntun, Cek Saham yang Diborong Asing Hari Ini

Sementara itu, XLSmart juga mendapatkan total 80 MHz guna memperkuat cakupan layanan di berbagai wilayah.

Namun, Jason memberikan catatan penting terkait potensi hambatan yang mungkin muncul dalam jangka pendek.

Ia menyebutkan bahwa implementasi jaringan 5G berisiko menekan margin keuntungan emiten telekomunikasi dalam waktu dekat.

Tingginya kebutuhan belanja modal atau capex menjadi faktor utama yang membebani kinerja keuangan perusahaan.

Kebutuhan tersebut mencakup biaya perolehan spektrum serta kewajiban ekspansi jaringan ke ratusan desa terpencil.

Wall Street Menguat Jelang Laporan Keuangan Perusahaan Teknologi Besar

Selain itu, perusahaan diwajibkan untuk mengejar target pengembangan 5G yang diharapkan mampu menjangkau lebih dari separuh populasi Indonesia.

“Margin berpotensi tertekan dalam jangka pendek karena biaya spektrum dan bunga pinjaman, sementara monetisasi 5G masih terbatas,” jelasnya.

Kendati demikian, ia tetap optimistis bahwa pengembangan 5G akan menjadi pendorong utama pertumbuhan pendapatan dalam jangka panjang.

Menurut dia, potensi peningkatan pendapatan rata-rata per pengguna atau ARPU akan jauh lebih optimal dengan struktur industri yang kini didominasi oleh tiga pemain besar.

Konsolidasi pasar ini dinilai memungkinkan terjadinya penyesuaian tarif yang lebih rasional bagi para operator.

Terkait pilihan saham, Samuel Sekuritas secara khusus menjagokan PT Indosat Tbk (ISAT) sebagai top pick atau pilihan utama bagi investor.

Pemilihan tersebut didasarkan pada strategi asset-light serta potensi kontribusi besar dari rencana penjualan aset fiber milik perusahaan.

Untuk PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), ia memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp 3.300 per saham.

Target harga tersebut ditetapkan seiring dengan posisi kuat TLKM sebagai pemenang lelang spektrum terbesar.

Sementara itu, rekomendasi untuk PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) masih dipertahankan pada level hold.

Target harga untuk EXCL ditetapkan pada level Rp 2.700 per saham dengan mempertimbangkan proses integrasi pascamerger yang masih terus berlangsung hingga saat ini.

Komentar