IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Harga Emas Melonjak 1,2% Dipicu Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan The Fed

Batangan emas murni yang disusun rapi dengan latar belakang grafik pasar finansial
Harga emas global melonjak 1,2 persen akibat ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

NEW YORK, Gonesia.com – Harga emas global mencatatkan penguatan signifikan sebesar lebih dari 1% pada perdagangan Selasa (21/7/2026) di tengah ketidakpastian geopolitik yang menyelimuti hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.

Lonjakan harga ini mencerminkan sikap kehati-hatian investor yang terus memantau proses diplomasi guna meredam eskalasi konflik di Timur Tengah.

Harga emas spot terpantau naik 1,2% menjadi US$ 4.054,24 per ons troi pada pukul 12.29 WIB.

Pada saat yang sama, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus turut terkerek 1,1% ke level US$ 4.059,10 per ons troi.

Kepala Makro Global Tastylive, Ilya Spivak, dalam laporannya kepada Kontan menyebut bahwa pergerakan harga emas saat ini sedang berupaya membangun pijakan baru sebelum melanjutkan tren penguatan.

Saham BBCA Terus Menguat, Masihkah Menarik bagi Investor Ritel?

Ia menuturkan, “Emas tampaknya sedang mencari titik dasar di sekitar level ini dan mencoba kembali bergerak naik.”

Spivak menambahkan bahwa dinamika di kawasan Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar, meski dampaknya kini cenderung bersifat jangka pendek.

Sebaliknya, pasar energi justru menunjukkan pelemahan harga minyak setelah mencuatnya laporan mengenai upaya mediasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Meskipun demikian, risiko pasar tetap terjaga tinggi akibat pertukaran serangan terbaru serta ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi oleh kelompok Houthi di Yaman.

Seorang pejabat senior Iran mengungkapkan bahwa Teheran baru saja menerima proposal dari pihak mediator terkait gencatan senjata selama 10 hari.

Wall Street Melemah Jelang Rilis Laporan Keuangan dan Eskalasi Timur Tengah

Langkah tersebut diharapkan mampu menyelamatkan kesepakatan sementara sekaligus membuka ruang bagi perjanjian permanen untuk mengakhiri perang.

Sebelumnya, ketegangan yang memuncak di kawasan tersebut sempat mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam satu bulan terakhir pada Senin kemarin.

Kondisi ekonomi makro ini memicu kekhawatiran di kalangan pembuat kebijakan Amerika Serikat mengenai potensi kenaikan suku bunga guna meredam inflasi.

Kenaikan suku bunga secara historis sering kali menekan harga emas karena meningkatkan biaya peluang bagi investor yang memegang aset tanpa imbal hasil.

Namun, pelaku pasar saat ini memprediksi bank sentral Amerika Serikat, The Fed, kemungkinan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan mendatang.

Rupiah Menguat 0,80% Sepekan, Pasar Antisipasi Keputusan RDG BI

Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas sebesar 64% bahwa The Fed baru akan melakukan penyesuaian kenaikan suku bunga pada bulan September.

Selain emas, tren positif juga merambah ke komoditas logam mulia lainnya di pasar global.

Harga perak spot mencatat kenaikan tajam sebesar 2,8% menjadi US$ 57,99 per ons.

Platinum ikut menguat 1% ke level US$ 1.610,06 per ons, sementara paladium naik 1,2% menjadi US$ 1.267,68 per ons.

Stabilitas pasar logam mulia di masa depan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi geopolitik serta arah kebijakan moneter The Fed.

Komentar