GIANYAR, Gonesia.com – Pelatih PSS Sleman, Pieter Huistra, menyoroti rapuhnya lini pertahanan dan ketidakberuntungan timnya sebagai faktor utama kegagalan membawa pulang poin dari markas Bali United pada Jumat (4/9/2026).
Klub berjuluk Super Elang Jawa tersebut harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan skor akhir 2-1 dalam laga yang berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta.
Hasil negatif ini membuat tim asuhan Huistra harus pulang dengan tangan hampa setelah gagal mengantisipasi strategi serangan lawan sepanjang 90 menit pertandingan.
Juru taktik asal Belanda tersebut secara spesifik menunjuk dua insiden krusial yang menjadi titik balik kekalahan timnya dalam duel tersebut.
Ia merasa keputusan wasit terkait penalti bagi lawan menjadi beban berat yang harus ditanggung oleh skuadnya di lapangan.
“Kami tentu berharap bisa mendapatkan hasil yang lebih baik. Saya pikir kami sedikit tidak beruntung, terutama dalam situasi penalti,” jelasnya sebagaimana dikutip dari JPNN.com.
Kekecewaan sang pelatih semakin bertambah karena gol kedua Bali United lahir dari keteledoran pemainnya sendiri di lini belakang.
Menurutnya, kesalahan individu semacam itu seharusnya tidak perlu terjadi dalam pertandingan dengan intensitas tinggi seperti ini.
“Saya bahkan bisa mengatakan kami benar-benar sangat tidak beruntung. Kemudian, gol kedua juga terjadi karena kesalahan dari pemain kami sendiri,” ujarnya.
Bali United sendiri sukses membuka keunggulan melalui eksekusi penalti Teppei Yachida pada menit ke-40.
Keunggulan tim tuan rumah kemudian diperlebar oleh aksi Queven pada menit ke-67 yang membuat mental pemain PSS sempat goyah.
Meskipun tertinggal dua gol, Huistra memberikan apresiasi terhadap daya juang anak asuhnya yang terus menekan hingga menit terakhir.
PSS akhirnya berhasil memperkecil ketertinggalan lewat gol Melvyn Lorenzen pada menit ke-90+6.
Namun, waktu tambahan yang sangat singkat tidak memberikan ruang bagi tim untuk mengejar gol penyama kedudukan.
Ia menilai respons pemain setelah tertinggal dua gol merupakan modal positif bagi tim untuk menatap laga selanjutnya.
“Namun, ada hal positif yang bisa kami ambil. Setelah tertinggal 0-2, kami tidak berhenti bermain,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa timnya tetap menunjukkan karakter sepak bola menyerang dan tidak kehilangan kepercayaan diri meski berada dalam tekanan.
“Kami tetap berusaha, terus mencoba, dan mencari cara untuk kembali ke pertandingan. Pada akhirnya, kami berhasil mencetak gol yang bagus, tetapi sayangnya gol tersebut datang terlalu terlambat,” tandasnya.
Kini, fokus utama tim beralih pada persiapan laga kandang melawan Madura United FC di Stadion Maguwoharjo.
Pertandingan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (12/9/2026) mendatang.
Kemenangan menjadi target mutlak bagi skuad Super Elang Jawa guna memperbaiki posisi di klasemen sementara.
Huistra dituntut segera melakukan evaluasi menyeluruh agar kesalahan di Gianyar tidak terulang kembali di depan pendukung sendiri.


