Jakarta, Gonesia.com – Nilai tukar rupiah diprediksi akan menghadapi ujian volatilitas yang signifikan pada awal pekan ini seiring dengan antisipasi pasar terhadap rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed.
Sentimen global saat ini memegang kendali penuh atas pergerakan mata uang domestik dibandingkan dengan faktor-faktor fundamental dari dalam negeri.
Data tenaga kerja AS bulan Agustus dipandang sebagai indikator krusial yang akan mengubah arah ekspektasi investor terhadap bank sentral Amerika Serikat.
Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menyatakan kepada Kontan bahwa terdapat ketergantungan tinggi pasar terhadap dinamika ekonomi internasional.
“Rupiah masih sangat ditentukan faktor global dibandingkan domestik, seperti data tenaga kerja AS, ekspektasi suku bunga The Fed, yield US Treasury, dan harga minyak,” ujarnya.
Pada perdagangan Jumat (4/9), rupiah berhasil mencatatkan penguatan sebesar 37 poin atau 0,21% ke level Rp 17.642 per dolar AS.
Data Bloomberg menunjukkan apresiasi tersebut didorong oleh meredanya tekanan dolar AS global dan masuknya arus modal asing ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Namun, para analis menilai penguatan tersebut masih bersifat defensif karena pasar tengah bersiap menghadapi data ekonomi global yang lebih mendalam.
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menjelaskan bahwa jika data non-farm payrolls (NFP) AS menunjukkan hasil yang memburuk, maka pasar akan merespons dengan memangkas ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed.
Kondisi tersebut diyakini akan menekan indeks dolar AS dan imbal hasil US Treasury, yang kemudian membuka peluang bagi rupiah untuk kembali menguat.
Sebaliknya, jika data tenaga kerja AS dirilis lebih kuat dari perkiraan, mekanisme pasar akan memicu penguatan dolar dan menekan mata uang emerging markets secara luas.
Tantangan tambahan muncul dari tipisnya likuiditas pasar akibat libur Labor Day di Amerika Serikat, yang berpotensi memperlebar rentang pergerakan rupiah di pasar Asia.
Syafruddin memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.590 hingga Rp 17.730 per dolar AS pada perdagangan awal pekan ini.
Ia menambahkan, “Jika data payroll jauh lebih lemah dari perkiraan dan yield UST turun, rupiah dapat menguji Rp 17.540–Rp 17.600.”
Di sisi lain, Rizal memperkirakan kurs rupiah akan berada pada rentang Rp 17.580 hingga Rp 17.720 per dolar AS.
Pemerintah dan otoritas moneter Indonesia sendiri masih memiliki bantalan berupa cadangan devisa yang berada di kisaran US$146 miliar.
Operasi stabilisasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia juga terus berjalan untuk menahan gejolak pasar yang berlebihan.
Namun, pelaku pasar tetap diminta mewaspadai risiko kenaikan harga minyak Brent serta dinamika geopolitik di Timur Tengah yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi.
Secara teknikal, jika sentimen global memberikan dukungan positif, rupiah berpotensi menguji kisaran Rp 17.550 hingga Rp 17.600 per dolar AS.
Sebaliknya, jika harga minyak dan data ekonomi AS kembali melonjak, rupiah berisiko melemah kembali menuju area Rp 17.700 hingga Rp 17.750 per dolar AS.


