JAKARTA, Gonesia.com – Miliarder Low Tuck Kwong bersama putrinya, Elaine Low, resmi menandatangani perjanjian bersyarat untuk melepas 10 miliar saham PT Bayan Resources Tbk kepada Jhonlin Baratama, sebuah entitas yang berafiliasi dengan pengusaha komoditas Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.
Langkah strategis ini mencakup pengalihan sekitar 30 persen kepemilikan saham di perusahaan tambang batu bara raksasa tersebut.
Transaksi besar ini dilakukan di tengah dinamika operasional Bayan Resources yang baru saja mengumumkan kondisi kahar atau force majeure dalam kontrak pasokan batu baranya.
Kondisi tersebut dipicu oleh belum disetujuinya revisi kuota produksi pertambangan Bayan oleh pemerintah Indonesia.
Haji Isam sendiri dikenal sebagai pengusaha asal Kalimantan yang memiliki kedekatan dengan Presiden Prabowo Subianto.
Ia disebut akan mengakuisisi sebagian dari total 62 persen saham Bayan yang saat ini dikuasai oleh Low Tuck Kwong.
Perubahan struktur kepemilikan ini terjadi hanya beberapa bulan setelah Low Tuck Kwong mengalihkan saham Bayan senilai US$6,6 miliar kepada putrinya pada Agustus 2024.
Langkah ini dipandang sebagai bagian dari konsolidasi aset keluarga di sektor pertambangan yang telah membesarkan nama mereka.
Low Tuck Kwong sendiri merupakan pengusaha kelahiran Singapura yang resmi menjadi warga negara Indonesia sejak tahun 1992.
Data terbaru mencatat kekayaan bersih pria ini mencapai angka fantastis sekitar US$16 miliar.
Melansir Katadata, Low Tuck Kwong dikenal sebagai salah satu pengusaha besar di sektor batu bara.
Ia merintis karier di Indonesia sejak tahun 1972 setelah memutuskan meninggalkan Singapura untuk mencari peluang usaha yang lebih luas.
Sebelum terjun ke sektor tambang, ia sempat bekerja di perusahaan konstruksi milik ayahnya di Singapura.
Pada tahun 1973, ia mendirikan PT Jaya Sumpiles Indonesia yang bergerak di bidang kontraktor pekerjaan tanah dan struktur kelautan.
Ekspansi bisnisnya ke sektor batu bara dimulai pada tahun 1988 melalui pengembangan berbagai proyek strategis.
Ia kemudian mengakuisisi PT Gunung Bayan Pratamacoal dan PT Dermaga Perkasapratama pada tahun 1998 sebagai fondasi berdirinya Bayan Group.
Keberhasilan proyek Tabang/Pakar di Kalimantan Timur menjadi pendorong utama lonjakan produksi perusahaan dalam satu dekade terakhir.
Selain batu bara, ia juga mengendalikan Metis Energy, perusahaan energi terbarukan yang berbasis di Singapura.
Portofolio bisnisnya bahkan merambah ke sektor teknologi melalui dukungan terhadap SEAX Global yang mengembangkan sistem kabel bawah laut.
Sistem tersebut dirancang untuk menghubungkan konektivitas internet antara Singapura, Indonesia, dan Malaysia.
Hingga data per 31 Maret 2026, Low masih tercatat memegang 40,22 persen saham dengan hak suara yang sah di Bayan Resources.
Keputusan melepas 30 persen saham kepada pihak Haji Isam menandai babak baru dalam peta kekuatan bisnis komoditas nasional.


