Jakarta, Gonesia.com – PT Unilever Indonesia Tbk menegaskan komitmennya untuk mempertahankan standar keberlanjutan yang ketat pada rantai pasok bahan baku meskipun perusahaan dihadapkan pada tekanan iklim dan ketidakpastian geopolitik yang signifikan sepanjang tahun 2025.
Perusahaan FMCG ini kini mengandalkan pasokan domestik sebagai strategi utama untuk memitigasi risiko gangguan global dengan mencatatkan 60% pemasok berasal dari dalam negeri hingga akhir 2025.
Langkah strategis ini diambil sebagai upaya nyata perusahaan dalam menjaga integritas produk agar tetap aman bagi konsumen serta ramah terhadap kelestarian lingkungan jangka panjang.
Director of Communication, Corporate Affairs, and Sustainability PT Unilever Indonesia Tbk, Nurdiana Darus, menjelaskan bahwa transparansi dalam rantai pasok menjadi prioritas utama bagi operasional perusahaan.
“Kami tahu supplier kami, bahkan hingga anak supplier. Kami memantau apakah sumber kami bagus dan baik, bukan hanya baik untuk manusia, tetapi juga ke lingkungan,” ujar Nurdiana dalam sesi Growing with Purpose: Business Leadership for Sustainable Impact Katadata SAFE 2026, Kamis (17/9).
Ketergantungan terhadap bahan baku impor yang sempat menjadi tantangan besar sepanjang tahun lalu kini berhasil dikurangi secara signifikan melalui optimalisasi rantai pasok lokal.
Beberapa komoditas utama seperti kedelai hitam dan minyak kelapa sawit telah menjadi tulang punggung keberhasilan inisiatif keberlanjutan perusahaan di Indonesia.
Pemanfaatan kedelai hitam untuk produk kecap manis kini telah sepenuhnya memenuhi standar sertifikasi Sustainable Agricultural Code (SAC) yang diakui secara internasional.
Sementara itu, pasokan minyak kelapa sawit yang digunakan oleh perusahaan telah mencapai 98,3% tingkat verifikasi bebas deforestasi berdasarkan audit independen.
Selain aspek lingkungan, perusahaan juga memperketat pengawasan terhadap praktik ketenagakerjaan melalui penerapan Responsible Partner Policy (RPP).
Sebanyak 90% dari total pemasok bahan baku saat ini telah memenuhi kualifikasi RPP yang mencakup perlindungan hak asasi manusia serta standar operasional ramah lingkungan.
Nurdiana menambahkan bahwa konsistensi dalam menjaga kualitas bahan baku berkelanjutan ini merupakan investasi krusial untuk membangun kepercayaan konsumen di pasar yang semakin kritis.
Strategi ini sejalan dengan temuan riset Katadata Insight Center (KIC) yang menunjukkan bahwa mayoritas konsumen bersedia membayar lebih untuk produk yang mengedepankan keberlanjutan.
Data riset tersebut mengungkapkan bahwa 60,5% konsumen memilih produk berkelanjutan didorong oleh motivasi kuat untuk melestarikan bumi bagi generasi mendatang.
Ia menegaskan bahwa keberlanjutan tidak boleh lagi hanya dipandang sebagai program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR yang bersifat periferal.
“Komitmen sustainability memang harus menjadi jantung bisnis perusahaan, tidak bisa hanya di level CSR. Perusahaan bertanggung jawab terhadap sustainable ingredients, sustainable packaging, sampai sustainable production. Itu akan meningkatkan kepercayaan konsumen,” lanjutnya.
Dengan mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam inti bisnis, perusahaan optimistis dapat terus tumbuh di tengah tantangan ekonomi global yang terus berkembang.
Langkah ini sekaligus memperkuat posisi perusahaan sebagai pemimpin pasar yang bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan dan sosial dari setiap produk yang dihasilkan.


