JAKARTA, Gonesia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melanjutkan fase konsolidasi pada perdagangan Jumat (18/9/2026) dengan potensi penguatan terbatas di tengah sentimen global dan domestik.
Para pelaku pasar saat ini tengah memantau pergerakan harga minyak dunia serta respons investor terhadap kebijakan suku bunga terbaru dari The Federal Reserve.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyatakan bahwa IHSG masih memiliki peluang untuk bergerak sideways dengan kecenderungan menguat pada hari ini.
“Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas level 6.400 dan indikator Stochastic RSI membentuk Golden Cross di area oversold,” ujar Alrich dalam riset yang dikutip dari Kontan.
Berdasarkan analisis teknikal tersebut, ia memperkirakan indeks akan bergerak dalam rentang konsolidasi di area 6.400 hingga 6.550.
Sentimen positif utama yang menopang pasar saham datang dari koreksi harga minyak Brent yang kini kembali berada di bawah level US$104 per barel.
Penurunan harga komoditas energi ini terjadi menyusul adanya rencana Arab Saudi untuk memulihkan kapasitas pipa pengiriman minyak dalam waktu dekat.
Kapasitas operasional pipa tersebut diharapkan dapat kembali normal sepenuhnya dalam kurun waktu sekitar enam pekan ke depan.
Di sisi lain, pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat melemah 0,33% ke level Rp17.753 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya masih menjadi perhatian serius bagi para investor.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memiliki pandangan serupa mengenai potensi pergerakan IHSG.
“Rentang 6.400-6.510,” kata Nico saat memberikan proyeksi perdagangan hari ini.
Ia menambahkan bahwa terdapat sejumlah sektor yang berpotensi menarik perhatian investor di tengah dinamika pasar saat ini.
Sektor-sektor tersebut meliputi sektor energi, basic industrial, properti, serta sektor transportasi dan logistik.
Secara global, pasar kini tengah mencerna keputusan The Fed yang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sesuai dengan ekspektasi konsensus.
Bank sentral Amerika Serikat tersebut juga memberikan sinyal adanya peluang kenaikan suku bunga lanjutan yang mungkin terjadi sepanjang sisa tahun ini.
Meskipun harga minyak yang lebih rendah memberikan sentimen positif, investor tetap dihantui oleh risiko inflasi yang dipicu oleh fluktuasi harga energi global.
Di tingkat domestik, pelaku pasar juga mulai mengamati arah kebijakan fiskal di bawah kepemimpinan Menteri Keuangan baru, Suahasil Nazara.
Komitmen pemerintah dalam menjaga kredibilitas anggaran menjadi salah satu faktor kunci yang dicermati oleh para pelaku pasar modal.
Selain itu, kewaspadaan investor mulai meningkat seiring dengan mendekatnya rapat kebijakan moneter Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.
Pada perdagangan Kamis (17/9/2026), IHSG berhasil ditutup menguat 25,58 poin atau 0,40% ke level 6.462,43.
Kenaikan indeks tersebut didorong oleh performa positif sektor consumer cyclicals yang mencatatkan penguatan sebesar 1,63%.
Sebaliknya, sektor health care justru mengalami tekanan jual dengan pelemahan terdalam sebesar 0,55% pada sesi perdagangan kemarin.


