Jakarta – Pemerintah Indonesia tengah memacu percepatan pembangunan ekosistem digital nasional guna memastikan posisi sebagai pemain utama dalam ekonomi digital Asia Tenggara tidak sekadar menjadi pasar konsumtif bagi teknologi asing. Dengan kontribusi mencapai 40 persen terhadap total ekonomi digital kawasan ASEAN, Indonesia dihadapkan pada tantangan besar untuk mentransformasi potensi pasar menjadi kemandirian teknologi yang berdaya saing global.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Nezar Patria, menyatakan bahwa Indonesia tidak boleh berpuas diri dengan besarnya pangsa pasar yang ada. Proyeksi nilai ekonomi digital nasional yang diperkirakan menembus US$ 360 miliar atau setara Rp 6.414,8 triliun dalam beberapa tahun ke depan harus diimbangi dengan penguatan fondasi domestik, mulai dari infrastruktur, pengembangan talenta, hingga inovasi teknologi.
“Kita sudah mengeksplorasi delapan prioritas untuk pembangunan ekosistem digital di Indonesia dengan spektrum yang cukup luas dan rentang yang beragam. Mulai dari peningkatan nilai tambah industri telekomunikasi sampai dengan peningkatan efisiensi biaya logistik nasional. Saya kira di setiap layer, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memperkuat ekosistem nasional,” ujar Nezar dalam pernyataan resminya, Selasa (23/6).
Menurut Nezar, langkah strategis yang diambil pemerintah saat ini merupakan bagian dari peta jalan Indonesia Digital 2045. Keberhasilan dalam membangun ekosistem yang solid akan menentukan apakah Indonesia mampu mencapai kemandirian teknologi dalam dua dekade mendatang. Ia menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas menjadi faktor krusial untuk mencapai target tersebut.
Dalam upaya memperkokoh fondasi digital, Indonesia kini melirik keberhasilan India dalam membangun infrastruktur publik digital. Nezar menyoroti sistem identitas digital Aadhaar dan platform pembayaran Unified Payment Interface (UPI) milik India sebagai model sukses yang mampu mendorong inklusi keuangan dan pertumbuhan ekonomi secara masif. Ia menyebut, Indonesia dapat mengadopsi pembelajaran dari strategi India yang telah memulai penguatan infrastruktur publik digital sejak satu dekade silam.
Selain memperkuat pasar domestik, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada integrasi Indonesia dalam rantai pasok global, khususnya di bidang teknologi masa depan seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence). Nezar mengakui bahwa saat ini Indonesia masih berada di tahap awal pengembangan AI dan belum menempati posisi strategis dalam rantai nilai teknologi global. Oleh karena itu, penguasaan teknologi strategis menjadi syarat mutlak bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing nasional di panggung internasional.
“Setelah kekuatan ekosistem ini dibangun, perlu juga diperhatikan bagaimana dengan kekuatan nasional yang kita miliki, kita bisa menembus rantai pasar global. Ini yang paling penting, yakni global supply chain dalam ekonomi digital, khususnya adopsi teknologi-teknologi yang advanced atau emerging technology seperti artificial intelligence,” jelasnya.
Sebagai catatan, pemerintah memproyeksikan nilai ekonomi digital Indonesia akan mencapai US$ 105 miliar atau Rp 1.870,9 triliun pada 2025 sebelum nantinya melesat ke angka US$ 360 miliar. Besarnya kontribusi Indonesia terhadap ekonomi digital ASEAN menempatkan negara ini sebagai motor penggerak pertumbuhan regional yang vital. Namun, efektivitas pencapaian target tersebut tetap bergantung pada keselarasan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem digital yang terukur dan berkelanjutan.

