Ekonomi

Dampak El Nino Picu Penurunan Produksi Beras Global Tahun Ini

Roma – Produksi beras global diproyeksikan mengalami kontraksi pada musim 2026/2027 akibat ancaman fenomena iklim El Nino dan meningkatnya tekanan biaya operasional di sektor pertanian. Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat, total produksi beras dunia diperkirakan hanya mencapai 552,4 juta ton, atau menyusut 1,6 persen dibandingkan capaian musim sebelumnya yang berada di angka 562,6 juta ton.

Laporan terbaru FAO menyebutkan bahwa hampir seluruh wilayah penghasil beras utama dunia diprediksi mengalami penurunan volume panen, dengan pengecualian untuk kawasan Afrika. Kondisi ini memicu kekhawatiran mengenai stabilitas cadangan pangan global, terutama karena proyeksi konsumsi beras dunia pada periode yang sama diprediksi menembus angka 558,1 juta ton. Kesenjangan antara jumlah produksi dan proyeksi konsumsi tersebut berpotensi menekan stok beras dunia secara signifikan.

Meskipun demikian, sektor irigasi yang stabil serta efektivitas program bantuan pemerintah di kawasan Asia menjadi penyangga utama yang mencegah penurunan produksi lebih dalam. “Semua wilayah kecuali Afrika diantisipasi untuk panen lebih sedikit daripada pada tahun 2025/26,” tulis laporan tersebut. Dukungan terhadap input produksi yang konsisten di negara-negara Asia dinilai mampu memitigasi dampak buruk dari ketidakpastian cuaca global.

Terkait ketersediaan cadangan, dunia saat ini masih berada dalam posisi yang cukup aman. Stok beras global pada akhir musim 2026/2027 diperkirakan berada di level 213,8 juta ton. Meskipun angka tersebut mencerminkan penurunan 2,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya, FAO menegaskan bahwa cadangan ini masih menjadi level tertinggi kedua dalam catatan sejarah, sehingga mampu menjaga keseimbangan pasokan di tengah tantangan iklim.

Dinamika perdagangan beras internasional juga diperkirakan melambat pada tahun 2026, dengan volume perdagangan diprediksi turun 2,1 persen menjadi 59,8 juta ton. Penurunan ini dipicu oleh kebijakan sejumlah negara importir utama yang masih menyimpan cadangan dari panen besar sebelumnya, sehingga kebutuhan untuk melakukan pembelian dari pasar global berkurang.

BGN Fokus Tingkatkan Kualitas Pengadaan Barang Efektif pada 2026

Perubahan peta perdagangan global juga mulai terlihat. Persaingan ketat diperkirakan akan menekan ekspor dari negara-negara seperti Kamboja, Cina, Pakistan, dan Amerika Serikat. Sebaliknya, beberapa eksportir lain seperti Brasil, Myanmar, Uruguay, Vietnam, dan India diprediksi akan meningkatkan pangsa ekspor mereka ke pasar internasional.

Dari sisi harga, pasar beras dunia mulai menunjukkan tren kenaikan setelah sempat menyentuh titik terendah dalam delapan setengah tahun terakhir pada November 2025. Indeks Harga Beras FAO tercatat berada di level 104,8 poin pada Mei 2026, yang berarti naik 6,6 persen dibandingkan posisi Oktober 2025. Kenaikan harga ini didorong oleh kuatnya permintaan untuk beras premium, seperti jenis beras wangi dan Japonica, serta meningkatnya biaya produksi secara menyeluruh. Kendati harga mulai pulih, kenaikan tersebut diprediksi tetap terbatas mengingat stok global yang masih berada pada level yang relatif tinggi.

Komentar

Berita Populer

01

KCIC Tambah Enam Perjalanan Whoosh, Arus Balik Bandung-Jakarta Padat

02

DSI Perkuat Tata Kelola Ekspor dan Devisa Nasional

03

Strategi ANTM Perkuat Pasar Domestik di Tengah Rencana Ekspor BUMN

04

Purbaya Tekankan Pancasila dalam Kelola Keuangan Negara

05

Kejagung Geledah Kantor BGN Pusat Jakarta Usai Ganti Pimpinan

06

Aher Apresiasi Dukcapil Hentikan Fotokopi e-KTP Demi Data Pribadi

07

Warga Jakarta Berbondong-Bondong Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan

08

Harga Avtur Turun, Mengapa Surcharge Tiket Pesawat Tetap Tidak Berubah?

Berita Terbaru