Jakarta, Gonesia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menuntaskan perdagangan akhir pekan dengan catatan positif.
Indeks ditutup menguat signifikan sebesar 2,28% atau 131,22 poin menuju level 5.875,78 pada Jumat (3/7/2026).
Meskipun mencatatkan lonjakan pada penutupan hari terakhir, performa mingguan IHSG tercatat masih terkoreksi sebesar 0,35%.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyatakan bahwa pergerakan indeks saat ini masih terjebak dalam fase penurunan.
Ia menambahkan bahwa tren tersebut masih dibayangi oleh adanya tekanan jual yang cukup kuat di pasar.
Herditya menjabarkan sejumlah sentimen fundamental yang memengaruhi dinamika pasar selama sepekan terakhir.
Faktor utama berasal dari data makro domestik yang menunjukkan sektor manufaktur berada di zona kontraksi pada level 46,9.
Selain itu, inflasi Indonesia tercatat menguat ke level 3,34% secara tahunan (YoY) diiringi dengan kondisi defisit neraca perdagangan.
Sentimen eksternal juga turut mendikte pergerakan pasar, terutama terkait kebijakan moneter Amerika Serikat.
Data pekerjaan di Amerika Serikat yang cenderung melambat menjadi sorotan utama pelaku pasar.
Kondisi tersebut memicu spekulasi bahwa The Fed kemungkinan besar akan menahan suku bunga acuannya dalam waktu lama atau higher for longer.
Ketidakpastian ini semakin diperparah dengan tingkat inflasi Amerika Serikat yang masih terpantau tinggi.
Di sisi lain, penguatan harga komoditas emas dunia memberikan sentimen positif bagi emiten-emiten yang bergerak di sektor terkait.
“Keempat, nilai tukar rupiah yang masih melemah terhadap dolar AS,” ujar Herditya, Jumat (3/7/2026).
Senada dengan kondisi domestik, mayoritas indeks bursa Asia juga ditutup menguat pada hari yang sama.
Analis pasar lainnya, Alrich, menilai penguatan ini dipicu oleh optimisme pasar terkait potensi penundaan kenaikan suku bunga The Fed.
Data nonfarm payrolls yang berada di bawah ekspektasi pasar menjadi katalis utama perubahan arah kebijakan tersebut.
“Selanjutnya, berlanjutnya koreksi harga minyak mentah dan rebound-nya harga emas juga menjadi faktor positif,” ujar Alrich, Jumat (3/7/2026).
Untuk perdagangan Senin mendatang, Herditya memproyeksikan IHSG berpeluang melanjutkan momentum penguatan.
Indeks ditargetkan mampu menembus level Moving Average (MA) 20 harian dengan support di angka 5.842.
Sementara itu, level resistance diproyeksikan berada pada kisaran 5.916.
Investor diperkirakan akan tetap memantau pergerakan harga emas dan nilai tukar rupiah yang kini berada di level psikologis Rp 18.000.
Secara teknikal, Alrich mengamati IHSG saat ini telah berada di atas MA5 dan MA10.
Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) dan Stochastic RSI bahkan telah membentuk Golden Cross.
Struktur teknikal ini membuka potensi bagi IHSG untuk menguji rentang level 5.900 hingga 6.000 pada pekan depan.
Herditya menyarankan pelaku pasar untuk mencermati saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dengan target harga Rp 2.100-Rp 2.210.
Saham PT Multipolar Tbk (MLPL) juga direkomendasikan untuk dicermati pada level Rp 89-Rp 97.
Terakhir, saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) disarankan dengan target harga di kisaran Rp 444-Rp 464 per saham.

