Jakarta, Gonesia.com – Sejumlah emiten perbankan di Bursa Efek Indonesia kini mengandalkan strategi pembelian kembali saham atau buyback sebagai upaya mitigasi terhadap tekanan harga pasar yang berkepanjangan.
Langkah korporasi ini dinilai bukan sebagai pemicu lonjakan harga, melainkan sekadar instrumen penyangga untuk mencegah pelemahan yang lebih dalam pada saham-saham sektor perbankan.
PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) menjadi entitas terbaru yang mengumumkan program buyback dengan nilai maksimal mencapai Rp 200 miliar.
Periode pembelian saham tersebut dijadwalkan berlangsung mulai 1 Juli hingga 1 September 2026.
Manajemen Allo Bank menyatakan bahwa aksi ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga saham agar lebih mencerminkan fundamental serta kinerja nyata perseroan.
“Sekaligus menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan dalam usaha Perseroan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan,” tulis manajemen Allo Bank dalam keterbukaan informasi, Selasa (30/6/2026).
Namun, realitas pasar menunjukkan tekanan jual yang masih sangat masif terhadap saham BBHI.
Hingga penutupan perdagangan Kamis (2/7/2026), saham BBHI bertengger di level Rp 930 atau telah terperosok 37,58% secara year to date (YTD).
Fenomena serupa juga terjadi pada bank-bank berkapitalisasi besar yang telah lebih dahulu menjalankan program serupa dengan nilai jumbo.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat mengalokasikan dana buyback hingga Rp 5 triliun untuk periode 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027.
Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menyiapkan dana Rp 1,17 triliun untuk aksi buyback yang berlangsung sejak 30 April 2026 hingga 20 April 2027.
Meski telah menyerap dana dalam jumlah besar, harga saham kedua raksasa perbankan tersebut belum mampu kembali ke zona hijau.
Pada penutupan perdagangan Kamis (2/7/2026), saham BBCA berada di level Rp 5.800, turun 28,17% YTD, sedangkan saham BMRI berada di posisi Rp 3.900, melemah 23,53% YTD.
Kepala Riset KISI, Muhammad Wafi, menyatakan bahwa buyback bukanlah instrumen ajaib yang bisa secara instan membalikkan arah harga saham saat sentimen negatif pasar mendominasi.
Ia menjelaskan bahwa nilai buyback yang dilakukan emiten perbankan cenderung kalah telak dibandingkan arus keluar dana investor asing atau foreign outflow.
“Fungsinya lebih untuk memperlambat penurunan daripada mendorong reli,” ujar Wafi dikutip dari KISI, Kamis (2/7/2026).
Walaupun dampaknya terbatas, Wafi tetap memandang aksi ini sebagai sinyal positif mengenai keyakinan manajemen bahwa harga saham saat ini sudah undervalued.
Pengurangan jumlah saham beredar melalui buyback juga berpotensi meningkatkan earning per share (EPS), yang menjadi sentyal positif bagi investor jangka panjang.
Namun, Wafi menekankan bahwa strategi ini harus dibarengi dengan prospek pertumbuhan laba yang jelas agar kepercayaan pasar dapat pulih sepenuhnya.
Emiten perbankan disarankan tetap menjaga konsistensi pembagian dividen serta transparansi kualitas aset demi mempertahankan daya tarik investasi.
Investor pun diimbau untuk tetap selektif dalam mengoleksi saham perbankan pada semester II 2026.
Pilihan utama tetap tertuju pada bank dengan basis dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) yang kuat seperti BBCA dan BMRI.
Sementara untuk saham seperti BBHI, investor diingatkan untuk lebih berhati-hati karena memiliki profil risiko yang jauh lebih tinggi.

