IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Potensi Bursa Indonesia Turun ke Frontier Market Capai 27 Persen

JAKARTA, Gonesia.com – Pasar modal Indonesia kini menghadapi ancaman penurunan status dari Emerging Market menjadi Frontier Market dengan probabilitas mencapai 27 persen pada November 2026.

Potensi penurunan peringkat ini mencuat di tengah ketatnya kriteria penilaian yang diterapkan oleh MSCI terhadap bursa saham domestik.

Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Shim Tae Yong, menyoroti kebijakan self regulatory organization (SRO) yang mewajibkan emiten memiliki free float minimal 15 persen.

Menurutnya, standar tersebut tergolong terlalu tinggi jika dibandingkan dengan standar pasar global.

“Free float SpaceX punya Elon Musk itu hanya 3 persen. Ini berarti mereka tentu tak bisa listing di Indonesia,” ujarnya dalam acara Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia, Jumat (3/7/2026).

DANA Gunakan AI untuk Optimalkan Proses Penilaian Kredit Nasabah

Ketegangan ini diperburuk dengan keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah emiten besar dari Global Standard Index pada Mei lalu.

Saham-saham tersebut meliputi AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, serta AMRT.

Selain itu, sebanyak 13 saham lainnya juga resmi didepak dari daftar small cap MSCI.

Status pembekuan atau freeze terhadap kenaikan peringkat pasar Indonesia sendiri telah berlangsung sejak Januari 2026.

Tinjauan Aksesibilitas Pasar Global MSCI pada 23 Juni 2026 pun tidak memberikan perubahan signifikan terhadap status tersebut.

WIKA Gedung Raih Kontrak Renovasi Kamar Operasi RSU Ulin Rp121,98 Miliar

“Jadi, ini bukanlah hal yang baik. Sebenarnya, mereka hanya terus menunda-nunda keputusan dan diberi harapan palsu,” tuturnya dikutip dari Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia, Jumat (3/7/2026).

Meskipun Polymarket memprediksi peluang penurunan status sebesar 27 persen, Shim memiliki pandangan yang lebih optimistis.

Ia memperkirakan probabilitas penurunan status ke Frontier Market sebenarnya berada di bawah 10 persen.

Keyakinan tersebut didasari oleh fakta bahwa isu MSCI telah diantisipasi pasar jauh sebelum tahun 2026 dimulai.

Koreksi harga saham yang terjadi saat ini dinilai telah mencerminkan sentimen negatif tersebut.

Danantara Pangkas 290 BUMN Demi Efisiensi Anggaran Rp50 Triliun

Bahkan, berbagai sektor yang tidak terkait langsung, seperti perbankan dan telekomunikasi, turut terimbas oleh volatilitas ini.

“BBCA, MORA, emiten telekomunikasi, semua terdampak. Jadi, isu MSCI ini tidak akan menjadi faktor pendorong utama pergerakan harga saham, kecuali jika status pembekuannya dicabut, yang mana itu akan menjadi hal positif,” katanya.

Di sisi lain, valuasi pasar saham Indonesia kini dinilai mulai menarik setelah mengalami tekanan jual yang cukup dalam.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat telah melemah sekitar 35 persen secara year to date (YTD).

Posisi indeks saat ini berada di level 5.875, jauh di bawah angka awal tahun sebesar 8.647.

Valuasi pasar yang berada di kisaran 14,6 kali dianggap sudah mendekati level krisis ekonomi.

Namun, pemulihan pasar diprediksi masih akan berjalan lambat dalam waktu dekat.

Faktor kenaikan suku bunga dan ketidakpastian kebijakan menjadi hambatan utama bagi penguatan pasar modal.

“Namun, kenaikan suku bunga dan risiko kebijakan membuat katalis pemulihan pasar belum sepenuhnya kuat,” ungkapnya.

Komentar

Berita Populer

01

Daftar Saham Baru Indeks KOMPAS100 dan Rekomendasi Analis Agustus 2026

02

YLKI Soroti Pemblokiran Rekening Bank Mandiri dan Ingatkan Hak Nasabah

03

Cara Mudah Beli Paket Data Semua Operator Lewat Aplikasi GoPay

04

UMK 2026: Daftar Lengkap Wilayah dengan UMK Tertinggi & Terendah

05

Proyeksi Kinerja ANTM Tetap Kuat di Tengah Bayang Risiko Regulasi

06

DPRD Sumbar Desak Perbaikan Jalan Payakumbuh-Lintau Lanjut 2026

07

HUT ke-81 RI, Paspampres kerahkan 1.147 personel dan alusista amankan VVIP

08

Kementerian Lingkungan Hidup Menanti Hasil Lab Cisadane, Pastikan Kualitas Air

Berita Terbaru