Surabaya – Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyebut pelaksanaan pembelajaran Sekolah Rakyat tahun ajaran 2025/2026 telah berjalan sekitar 11 bulan. Di SRMA 21 Surabaya, perkembangan itu diperlihatkan langsung kepada orang tua, calon siswa, serta sejumlah pihak yang hadir dalam open house di Jawa Timur pada Jumat, 26 November 2026.
Gus Ipul menjelaskan, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi Kemensos untuk membuka akses seluas-luasnya kepada calon siswa, orang tua, tokoh masyarakat, hingga pemerintah daerah agar bisa menyaksikan sendiri proses belajar para siswa Sekolah Rakyat.
“Alhamdulillah setelah lebih dari 10 bulan (Sekolah Rakyat), proses pembelajarannya makin baik, anak-anak juga sudah mulai lebih disiplin, lebih percaya diri, semangat belajarnya meningkat, pertumbuhan juga bagus, kesehatannya juga makin bagus,” ujar Gus Ipul dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi di Jakarta, Jumat, 3 Juli 2026.
Dalam agenda itu, para tamu disuguhi berbagai penampilan siswa SRMA 21 Surabaya. Mereka menunjukkan hasil pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler, mulai dari baris-berbaris variasi, hadrah, tari tradisional, pencak silat, pidato bahasa Inggris dan Arab, paduan suara, hingga puisi.
Penampilan para siswa berlangsung penuh percaya diri. Setelah itu, Gus Ipul juga berdialog langsung dengan orang tua, siswa, dan calon siswa yang hadir.
Salah satu momen haru datang dari Ita Fitriani, ibu dari siswa SRMA 21 Surabaya, Marsya Dwi Cahyani. Saat berbincang dengan Gus Ipul, ia tak kuasa menahan rasa bangga melihat perubahan putrinya.
“(Sekarang) sudah berani tampil, sudah baik pokoknya, dulu pemalu sekali, tertutup anaknya,” kata Ita sambil menitikkan air mata dan memeluk anaknya.
Marsya sendiri tampil dalam pertunjukan baris variasi. Ia berasal dari keluarga sederhana di Kecamatan Semampir, Surabaya. Ayahnya, Siswandi, bekerja sebagai kuli bangunan dengan penghasilan tak menentu. Kondisi itu sempat membuat Marsya harus berhenti sekolah.
Perjalanan Marsya kini berubah setelah ia bisa kembali menempuh pendidikan melalui Sekolah Rakyat dan berkesempatan mengejar cita-citanya. Ita mengaku sangat bersyukur karena putrinya dapat melanjutkan sekolah setelah sempat putus selama lebih dari satu tahun.
“Saya terima kasih sekali sudah bisa sekolah di Sekolah Rakyat anaknya. Dulu kan sempat putus dia, satu tahun lebih. Ingin jadi dokter juga,” ucap Ita.
Marsya pun merasakan perubahan besar selama hampir dua semester belajar di Sekolah Rakyat. Ia mengaku kini lebih mandiri dan lebih tertib dalam menjalani keseharian.
“Saya lebih disiplin, disiplin salat, terus bisa memanajemen waktu juga,” kata Marsya.

