Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak tertekan pada perdagangan Selasa (29/9/2026) setelah sehari sebelumnya terkoreksi 1,51 persen dan ditutup di level 6.147,86 pada Senin (28/9). Sejumlah analis melihat peluang pelemahan lanjutan masih terbuka, dengan tekanan datang dari faktor eksternal maupun domestik.
Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai indeks masih rawan melanjutkan penurunan. Ia memproyeksikan area support IHSG berada di 6.124, sementara resistance di 6.169.
Dari sisi sentimen global, pasar menunggu rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk membaca arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Pergerakan rupiah terhadap dolar AS juga ikut menjadi perhatian karena pelemahan mata uang domestik berpotensi menambah beban bagi pasar saham.
Pandhu Dewanto, analis Investindo Nusantara Sekuritas, menilai IHSG masih berada dalam tren bearish jangka pendek. Menurut dia, tekanan utama datang dari aksi jual investor asing yang masih berlanjut dan menekan saham-saham berkapitalisasi besar.
Pandhu memperkirakan support indeks berada di 6.029 dan resistance di 6.328. “Nilai tukar rupiah juga masih terus tertekan oleh kenaikan US Dollar Index dan yield obligasi global seiring ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Kenaikan harga minyak mentah juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi,” ujarnya kepada Kontan.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, juga melihat IHSG masih berada dalam fase bearish-to-cautious pada perdagangan Selasa. Ia menyebut indikator Relative Strength Index (RSI) sudah masuk zona oversold, namun tekanan jual masih dominan setelah indeks menembus sejumlah level support.
Dalam pandangannya, area support IHSG berada di 6.016 dan 5.851. Adapun resistance diperkirakan di 6.148 dan 6.325.
Nafan menyoroti beberapa faktor global yang masih perlu diwaspadai investor, mulai dari suku bunga yang tetap tinggi, kenaikan harga minyak, inflasi yang belum mereda, hingga ketidakpastian geopolitik. Selain itu, kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun juga dinilai bisa membuat pelaku pasar lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, terutama saham berkapitalisasi besar.
Dari dalam negeri, pasar masih beradaptasi dengan penerapan batas minimum harga saham Rp 1 serta perubahan mekanisme Full Call Auction (FCA). Meski demikian, Nafan menegaskan tekanan terhadap IHSG tidak semata-mata disebabkan oleh penyesuaian aturan perdagangan saham tersebut.
Ia menambahkan, pelemahan rupiah, kenaikan yield global, dan lonjakan harga minyak turut membebani pergerakan indeks. Dengan kombinasi sentimen itu, laju IHSG pada perdagangan berikutnya masih akan sangat ditentukan oleh kemampuan indeks bertahan di area support serta perkembangan isu suku bunga AS dan nilai tukar rupiah.


