Jakarta – Menipisnya stok batubara di sejumlah pabrik semen menambah tekanan bagi industri yang sejak lama masih bergulat dengan kelebihan kapasitas dan permintaan domestik yang belum pulih sepenuhnya.
Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia sebelumnya menyebut sebagian pabrik hanya memiliki cadangan batubara untuk dua sampai tiga hari. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran produksi di tengah ketatnya persaingan sektor semen.
Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai gangguan pasokan batubara memang menjadi risiko jangka pendek bagi produsen semen. Dampaknya, kata dia, terutama terasa pada volume produksi, tingkat utilisasi, dan margin keuntungan.
“Stok di sebagian pabrik sempat hanya dua sampai tiga hari, namun indikasi penurunan produksi yang drastis dan berkelanjutan apabila pasokan segera normal,” ujarnya kepada Kontan, Senin (28/9).
Menurut Sukarno, persoalan yang lebih berat justru datang dari kenaikan biaya energi, sementara ruang produsen semen untuk menaikkan harga jual masih terbatas. Dalam kondisi persaingan yang ketat, tekanan biaya itu bisa langsung menggerus margin.
“Risiko terbesar adalah kenaikan biaya energi di tengah pricing power yang terbatas, sehingga tekanan biaya dapat langsung berdampak terhadap margin apabila tidak diimbangi kenaikan harga jual,” tuturnya.
Ia menambahkan, sektor semen juga masih dibayangi masalah struktural berupa kapasitas berlebih, utilisasi yang rendah, dan pertumbuhan permintaan yang cenderung stagnan. Gangguan pasokan batubara, lanjutnya, hanya mempertebal beban pemulihan industri.
“Gangguan batubara menambah tekanan terhadap pemulihan sektor, sehingga perbaikan kinerja akan bergantung pada pertumbuhan demand, normalisasi pasokan energi, dan peningkatan utilisasi,” ucapnya.
Dalam pandangan Sukarno, ruang penguatan saham emiten semen masih terbatas dalam jangka pendek. Investor diminta mencermati perkembangan pasokan energi dan sentimen industri sebelum mengambil posisi lebih agresif.
“Mengingat pergerakan masih terus dalam tekanan meskipun secara harga wajar sudah termasuk diskon, kami menyarankan wait and see terlebih dahulu atau rekomendasi hold,” katanya.
Dari sisi lain, Head of Research OCBC Sekuritas Budi Rustanto melihat konsumsi semen domestik masih berpeluang tumbuh, ditopang kebijakan fiskal, pembangunan perumahan, serta peningkatan realisasi proyek pemerintah.
OCBC Sekuritas memperkirakan pertumbuhan konsumsi semen di pasar domestik akan berlanjut pada semester II 2026. Faktor musiman, kondisi cuaca, dan kenaikan realisasi anggaran pemerintah menjelang akhir tahun ikut menjadi penopang.
Sejumlah program pemerintah juga dinilai berpotensi mendorong permintaan semen, mulai dari pembangunan tiga juta rumah, Koperasi Desa Merah Putih, Kampung Nelayan Merah Putih, Sekolah Rakyat, hingga proyek infrastruktur nasional dan daerah.
Dari sektor swasta, kebutuhan semen bisa datang dari investasi industri dan hilirisasi, pembangunan hunian vertikal, kawasan komersial, sampai pusat data. Meski begitu, Budi menilai pemulihan permintaan akan tetap berlangsung bertahap.
Di sisi produksi, tantangan utama masih datang dari kelebihan kapasitas. Kapasitas nasional disebut sekitar 120 juta ton per tahun, sementara tingkat utilisasi diperkirakan hanya berada di kisaran 56 persen.
OCBC Sekuritas memperkirakan permintaan domestik pada 2026 mencapai 64,9 juta ton, jauh di bawah kapasitas terpasang 120,8 juta ton. Artinya, utilisasi industri masih sekitar 54 persen.
Dengan kondisi itu, peluang kenaikan volume produksi masih sangat bergantung pada percepatan permintaan dan kemampuan emiten menjaga harga jual. Persaingan pun diperkirakan tetap ketat.
“Kondisi tersebut membuat persaingan harga tetap ketat dan membatasi kemampuan produsen meneruskan kenaikan biaya energi kepada konsumen, terutama ketika permintaan belum tumbuh secara signifikan,” jelas Budi dalam risetnya.
Di tengah proyeksi tersebut, OCBC Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk SMGR dengan target harga Rp2.200 per saham. Rekomendasi beli juga diberikan untuk INTP dengan target harga Rp6.000 per saham.


