Jakarta – PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART) menyiapkan dua aksi korporasi besar untuk menopang ekspansi bisnis, yakni right issue dengan nilai maksimal Rp200 miliar dan buyback saham hingga Rp10 miliar. Rencana pendanaan itu diarahkan untuk memperkuat struktur modal, terutama demi mendukung kebutuhan bahan baku, peningkatan produksi, serta pengembangan usaha perseroan.
Direktur PART Tjoeng Rino Saputra mengatakan, penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau PMHMETD tersebut ditargetkan berlangsung pada kuartal I-2027. Namun, perusahaan tetap akan menyesuaikannya dengan kesiapan internal dan kondisi pasar saat pelaksanaan.
Menurut Tjoeng, dana hasil right issue setelah dikurangi biaya emisi akan dipakai terutama untuk modal kerja. Pemanfaatannya mencakup pembelian bahan baku, percepatan aktivitas produksi, kebutuhan operasional, hingga pengembangan usaha perusahaan.
“Pelaksanaan right issue direncanakan dengan memperhatikan kondisi pasar dan kebutuhan Perseroan serta akan tunduk pada persetujuan pemegang saham, pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujar Tjoeng dalam keterangan resmi, Selasa (29/9/2026).
Di sisi lain, PART juga menyiapkan pembelian kembali saham perseroan atau buyback sebanyak-banyaknya 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh pada saat RUPSLB. Anggaran yang disiapkan untuk aksi ini dibatasi maksimal Rp10 miliar.
Buyback itu akan dilakukan bertahap selama paling lama 12 bulan setelah mendapat restu RUPSLB. Pelaksanaannya juga bergantung pada kondisi pasar, ketersediaan dana, kebutuhan operasional, serta ketentuan Bursa Efek Indonesia dan aturan perundang-undangan yang berlaku.
Selain menguatkan sisi permodalan, PART membidik pengembangan lini bisnis non-otomotif sebagai strategi jangka menengah. Langkah ini ditempuh untuk memperluas sumber pendapatan sekaligus mengoptimalkan kemampuan manufaktur yang sudah dimiliki perusahaan.
Melalui pengembangan kemampuan engineering dan manufaktur, PART mulai menjajaki berbagai penggunaan mesin dan peralatan untuk sektor pertanian, pengolahan pangan, pengolahan limbah, sampai kebutuhan peralatan industri lainnya. Kapabilitas hendak diperkuat lewat fabrikasi, stamping, welding, perakitan, dan integrasi peralatan.
Dengan fondasi itu, PART tidak hanya menempatkan diri sebagai produsen komponen. Perseroan juga sedang membangun posisi sebagai penyedia solusi manufaktur dan engineering berbasis proyek untuk berbagai kebutuhan industri.
Dari sisi kinerja, PART mencatat penjualan Rp369,59 miliar sepanjang 2025, naik 38,23% dibandingkan Rp267,38 miliar pada 2024. Kenaikan penjualan ini turut mendorong profitabilitas perusahaan.
Laba kotor PART naik 20,93% menjadi Rp70,78 miliar dari sebelumnya Rp58,53 miliar. Laba usaha bertambah 29,93% menjadi Rp40,62 miliar dari Rp31,26 miliar, sedangkan laba bersih meningkat 29,97% menjadi Rp30,21 miliar dari Rp23,24 miliar.
Tjoeng menilai pertumbuhan itu menjadi pijakan penting bagi perusahaan untuk memperkuat bisnis inti sekaligus membuka peluang baru di sektor manufaktur.


