Jakarta – Biofuel dinilai lebih tepat diarahkan untuk menekan emisi sektor transportasi laut dan udara ketimbang kendaraan darat. Alasannya, pasokan bioetanol dan biodiesel dikhawatirkan tak akan mampu mengejar kebutuhan bahan bakar transportasi darat yang terus membesar, sementara ruang dekarbonisasi di laut dan udara masih belum memiliki banyak pilihan.
Lead Program Transisi Energi Berbasis Komunitas Madani Berkelanjutan, Riza Egi Arizona, mengatakan transportasi darat kini memiliki jalur transisi yang kian matang lewat elektrifikasi. Sebaliknya, sektor maritim dan penerbangan masih sangat bergantung pada bahan bakar cair yang lebih sulit digantikan.
“Kalau di laut dan udara, kebutuhan bahan bakar cair itu lebih sulit digantikan,” ujar Egi saat peluncuran kajian berjudul Menakar Ambisi dan Realitas: Masa Depan Biofuel Indonesia dalam Kerangka Transisi Energi yang Berkeadilan, Selasa (29/9).
Kajian yang disusun Yayasan Madani Berkelanjutan bersama Institute for Essential Services Reform (IESR), Koaksi Indonesia, dan Landscape Alliance itu memproyeksikan pasokan biodiesel dan bioetanol hanya mencapai sekitar 26,6 juta kiloliter pada 2030.
Di sisi lain, kebutuhan biodiesel dan bioetanol untuk transportasi darat diperkirakan mencapai sekitar 42 juta kiloliter pada tahun yang sama. Angka itu melonjak menjadi sekitar 81,6 juta kiloliter pada 2050. Adapun kebutuhan untuk transportasi laut jauh lebih kecil, yakni sekitar 0,09 juta kiloliter pada 2030.
Egi menegaskan, pemanfaatan biofuel tidak bisa disamaratakan untuk semua sektor transportasi. Menurut dia, arah penggunaannya harus mempertimbangkan keseimbangan pasokan dan permintaan, kesiapan teknologi, serta ketersediaan alternatif lain untuk menurunkan emisi.
Ia mendorong pemerintah menggeser fokus kebijakan biofuel ke sektor non-darat. Untuk maritim, kata dia, opsi seperti hydrotreated vegetable oil (HVO) dapat dipakai untuk kebutuhan tertentu. Sementara itu, penerbangan bisa mengandalkan sustainable aviation fuel (SAF).
“Prioritas pada sektor maritim dan penerbangan itu lebih realistis untuk mengarahkan biofuel pada kebutuhan dekarbonisasi yang lebih luas,” kata Egi.


