Berita

Rupiah Tertekan, IHSG Anjlok ke Zona Merah

dolar-as-diprediksi-tembus-rp19-ribu-akhir-bulan-ini
Dolar AS Diprediksi Tembus Rp19 Ribu Akhir Bulan Ini

Jakarta – Rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan dan berisiko merosot hingga menembus Rp19.000 per dolar AS, seiring sentimen pasar yang kian memburuk akibat kombinasi faktor global dan domestik. Di saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dinilai rawan terkoreksi lebih dalam dan bisa mendekati level 4.000 pada akhir Juni 2026.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan proyeksi itu dalam analisanya pada Senin, 8 Juni 2026. Ia menilai pelemahan pasar yang terjadi saat ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 13.00 WIB, rupiah tercatat terus melemah ke Rp18.181 per dolar AS. Mata uang Garuda itu turun 145,5 poin atau 0,81 persen dan semakin mendekati level psikologis baru Rp18.200.

Tekanan serupa juga dialami pasar saham. IHSG terperosok 160 poin atau 2,87 persen ke posisi 5.434, setelah sempat menyentuh titik terendah harian di 5.346.

Ibrahim menyebut kondisi tersebut dipicu oleh sejumlah faktor, mulai dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat, hingga beban fiskal dalam negeri yang ikut tertekan oleh kenaikan harga minyak dunia.

Korlantas Tunda Ops Patuh Jaya 2026 Demi Bhayangkara

Menurut dia, lonjakan harga minyak mentah global akan mendorong kebutuhan dolar AS untuk impor energi. Dampaknya, neraca berjalan bisa ikut terganggu dan tekanan terhadap defisit anggaran pemerintah semakin besar.

“Kalau kebutuhan dolar mengalami peningkatan, berarti ini pun juga akan mempengaruhi neraca berjalan. Kalau neraca berjalan berpengaruh, berarti akan mempengaruhi defisit anggaran, kemungkinan besar akan mendekati 3 persen,” ujar Ibrahim.

Di dalam negeri, inflasi yang terus naik dan surplus neraca perdagangan yang mulai menyempit juga memperburuk kondisi ekonomi. Ibrahim menambahkan, keluarnya modal asing dari pasar keuangan Indonesia memperlihatkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap agenda belanja pemerintah.

Ia menyinggung proyek MBG dan Koperasi Desa Merah Putih, serta lonjakan subsidi bahan bakar sebagai faktor yang paling menyedot perhatian pelaku pasar.

“Terutama adalah tentang proyek-proyek MBG, proyek Koperasi Desa Merah Putih. Kemudian ini pun juga yang paling utama itu adalah meningkatnya subsidi bahan bakar,” kata dia.

Dharmasraya Gelar DCL, Bazaar UMKM, dan CFD Meriah

Ibrahim menilai kebutuhan subsidi energi yang membengkak akibat mahalnya harga minyak dunia akan semakin menekan APBN. Ia mengingatkan, porsi bahan bakar bersubsidi mencapai 85 persen dan tetap membutuhkan cadangan dolar yang besar.

“ Kita harus tahu bahwa bahan bakar yang disubsidi 85 persen ini membutuhkan dolar yang cukup besar, harus diingat di APBN itu dipatok Rp16.500. Kemudian minyaknya di (harga) 70 Dolar AS per barrel, sekarang sudah di angka berapa?” ujarnya.

Dari sisi global, konflik di Timur Tengah disebut ikut mengerek penguatan dolar AS sekaligus harga minyak. Di saat bersamaan, data ketenagakerjaan AS yang masih solid membuat peluang penurunan suku bunga bank sentral AS semakin kecil.

“Bahwa kebijakan suku bunga rendah kemungkinan besar tidak akan terjadi,” tandas Ibrahim.

Komentar
Hendri Arnis Tutup Festival Alang-Alang Baradaik, Lestarikan Budaya Pabasko

Berita Populer

01

KCIC Tambah Enam Perjalanan Whoosh, Arus Balik Bandung-Jakarta Padat

02

DSI Perkuat Tata Kelola Ekspor dan Devisa Nasional

03

Kejagung Geledah Kantor BGN Pusat Jakarta Usai Ganti Pimpinan

04

Warga Jakarta Berbondong-Bondong Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan

05

Strategi ANTM Perkuat Pasar Domestik di Tengah Rencana Ekspor BUMN

06

Aher Apresiasi Dukcapil Hentikan Fotokopi e-KTP Demi Data Pribadi

07

Purbaya Tekankan Pancasila dalam Kelola Keuangan Negara

08

Harga Avtur Turun, Mengapa Surcharge Tiket Pesawat Tetap Tidak Berubah?

Berita Terbaru