Ekonomi

IHSG Anjlok 2,87% di Sesi I, Rupiah Melemah ke Rp18.180

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang signifikan pada sesi perdagangan Senin (8/6), ditutup melemah 160,459 poin atau terkoreksi sebesar 2,87 persen ke level 5.434,306. Penurunan tajam ini mencerminkan sentimen negatif yang menyelimuti pasar modal domestik di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sejalan dengan IHSG, indeks LQ45 yang menjadi acuan saham-saham berkapitalisasi besar turut mengalami pelemahan sebesar 15,427 poin atau 2,77 persen ke posisi 542,318. Data perdagangan menunjukkan dominasi aksi jual di pasar, di mana sebanyak 646 saham ditutup di zona merah, sementara hanya 88 saham yang mampu mencatatkan penguatan, dan 79 saham lainnya stagnan.

Aktivitas perdagangan pada sesi pertama ini tercatat cukup padat dengan total frekuensi transaksi mencapai 1.378.878 kali. Volume saham yang diperdagangkan mencapai 20,24 miliar lembar dengan total nilai transaksi sebesar Rp 12,92 triliun. Tingginya nilai transaksi di tengah penurunan indeks mengindikasikan adanya aksi pelepasan aset oleh investor secara masif.

Sejumlah saham yang menjadi penekan utama atau top losers pada sesi siang ini di antaranya adalah PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk (WEHA) yang anjlok 14,88 persen ke level 103, dan PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA) yang melemah 14,78 persen ke level 196. Selain itu, PT Trimegah Karya Pratama Tbk (UVCR) turun 14,20 persen ke level 145, serta saham berkapitalisasi besar PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang terkoreksi 11,96 persen ke level 2.430.

Tekanan terhadap pasar saham juga diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah. Data Bloomberg mencatat mata uang Garuda anjlok 146,00 poin atau 0,81 persen terhadap dolar AS, berada di level Rp 18.182 per dolar AS. Pelemahan mata uang lokal ini sering kali menjadi pemicu bagi investor asing untuk melakukan aksi jual di bursa saham domestik.

IHSG Diprediksi Kembali Melemah Hari Ini Akibat Tekanan Jual Tinggi

Kondisi serupa terjadi di berbagai bursa saham utama Asia, menunjukkan adanya fenomena aksi jual regional. Indeks Nikkei 225 di Jepang memimpin pelemahan dengan koreksi sebesar 4,17 persen ke 6.381,398. Diikuti oleh Indeks Straits Times Singapura yang turun 2,87 persen ke 5.434,310. Sementara itu, Indeks SSE Composite di China melemah 1,54 persen ke 3.965,290, dan Indeks Hang Seng di Hong Kong terkoreksi 1,41 persen ke level 24.607,390.

Sentimen negatif yang melanda pasar saham Asia ini ditengarai dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi makroekonomi global yang belum stabil. Ketidakpastian arah kebijakan moneter serta kekhawatiran akan perlambatan pertumbuhan ekonomi di kawasan regional turut mendorong investor untuk mengalihkan portofolio investasi mereka ke aset yang dianggap lebih aman atau melakukan aksi profit taking di tengah volatilitas tinggi. Para pelaku pasar kini menanti langkah kebijakan fiskal maupun moneter lanjutan sebagai respons terhadap tekanan pasar yang terus berlangsung pada sesi perdagangan berikutnya.

Komentar

Berita Populer

01

KCIC Tambah Enam Perjalanan Whoosh, Arus Balik Bandung-Jakarta Padat

02

DSI Perkuat Tata Kelola Ekspor dan Devisa Nasional

03

Kejagung Geledah Kantor BGN Pusat Jakarta Usai Ganti Pimpinan

04

Warga Jakarta Berbondong-Bondong Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan

05

Strategi ANTM Perkuat Pasar Domestik di Tengah Rencana Ekspor BUMN

06

Aher Apresiasi Dukcapil Hentikan Fotokopi e-KTP Demi Data Pribadi

07

Purbaya Tekankan Pancasila dalam Kelola Keuangan Negara

08

Harga Avtur Turun, Mengapa Surcharge Tiket Pesawat Tetap Tidak Berubah?

Berita Terbaru