JAKARTA – Suasana haru menyelimuti gelaran ‘Raisa Live in Concert: Love & Let Go’ di Jakarta Convention Center pada Minggu (7/6). Penyanyi Raisa tak kuasa menahan air mata saat tampil di panggung pada hari kedua konser tersebut, terutama ketika ia mengenang mendiang ibundanya, Ria Mariaty, yang tutup usia pada 29 November 2025 lalu.
Momen tersebut menjadi sangat emosional karena merupakan konser tunggal pertama bagi Raisa tanpa kehadiran sang ibu. Di hadapan ribuan penonton, penyanyi yang kini berusia 36 tahun itu mengungkapkan betapa sulitnya menjalani hari-hari pasca kepergian orang yang ia sebut sebagai belahan jiwanya.
“Kerasa banget manggung tanpa doa Ibu. Ketika kehilangan, baru semua penyesalan itu datang. Sampai akhirnya aku benar-benar bisa memandang dan menghadapi duka itu,” tutur Raisa di atas panggung.
Raisa mengaku kini telah sampai pada titik penerimaan. Baginya, duka bukanlah sesuatu yang harus dihilangkan atau dilupakan, melainkan sebuah ruang tempat cinta tetap hidup. Pemikiran mendalam tersebut kemudian melahirkan lagu bertajuk ‘Kuharap Duka Ini Selamanya’ yang dirilis pada 13 Februari 2026.
Lagu tersebut menjadi karya paling personal dalam perjalanan karier Raisa. Ia menegaskan bahwa lagu itu bukan tentang melepaskan kesedihan, melainkan tentang merangkul duka tersebut sebagai bagian dari dirinya.
Dalam konser tersebut, Raisa juga memberikan penghormatan khusus bagi mendiang Vidi Aldiano. Layar panggung menampilkan potret Ria Mariaty dan Vidi Aldiano secara berdampingan, yang membuat Raisa kembali menitikkan air mata di tengah penampilannya.
‘Raisa Live in Concert: Love & Let Go’ yang diselenggarakan selama dua hari (6-7 Juni 2026) oleh Juni Concert dan Antara Suara ini mengusung konsep *moviechestra*. Berkolaborasi dengan komposer Andi Rianto dan Magenta Orchestra, aransemen lagu-lagu hit Raisa disulap menjadi lebih sinematik.
Selama lebih dari tiga jam, Raisa membawakan lagu-lagu dari berbagai albumnya, mulai dari *Raisa* (2011) hingga *ambiVert* (2025). Konser bertema ‘Love & Let Go’ ini menjadi cerminan fase kehidupan Raisa saat ini, yakni sebuah perjalanan emosional tentang mencintai dengan sepenuh hati sekaligus belajar untuk mengikhlaskan.

