JAKARTA, Gonesia.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mencatatkan pelemahan pada pembukaan perdagangan hari Senin, 27 Juli 2026, yang dipicu oleh sentimen negatif pergantian pucuk pimpinan di Bank Indonesia.
Mata uang Garuda terkoreksi sebesar 0,07% ke posisi Rp17.976 per dolar AS pada sesi pagi ini.
Data dari Bloomberg menunjukkan rupiah sempat dibuka pada level Rp17.972 per dolar AS, namun tekanan jual terus berlanjut hingga sempat menyentuh angka Rp17.976 per dolar AS.
Kinerja negatif ini melanjutkan tren pelemahan dari penutupan perdagangan akhir pekan lalu yang berada di level Rp17.963 per dolar AS.
Kabar pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia kini menjadi sorotan utama pelaku pasar keuangan domestik.
Presiden Prabowo Subianto telah secara resmi menerima surat pengunduran diri tersebut guna proses transisi kepemimpinan.
Untuk menjaga stabilitas, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti telah ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Gubernur BI sementara.
Penunjukan ini berlaku hingga pemerintah menetapkan gubernur definitif sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Bank Indonesia.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menyatakan bahwa pengunduran diri tersebut memicu kekhawatiran di kalangan investor.
Ia menyoroti bahwa ketidakpastian kepemimpinan di otoritas moneter sering kali direspons negatif oleh pasar.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Namun penguatan mungkin akan terbatas karena investor cenderung wait and see menantikan rilis data ekonomi penting AS. Selain itu, pengunduran diri Gubernur BI juga bisa menekan rupiah,” kata Lukman kepada Katadata.
Lukman memproyeksikan pergerakan mata uang domestik sepanjang hari ini akan berada di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Secara fundamental, rupiah sebenarnya memiliki ruang untuk menguat akibat meredanya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Namun, faktor eksternal berupa data ekonomi Amerika Serikat menjadi penghambat utama bagi penguatan mata uang rupiah.
Pasar saat ini tengah menantikan rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat yang akan segera diumumkan.
Selain itu, data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dan hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) turut menjadi fokus utama pelaku pasar global.
Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana memiliki pandangan serupa mengenai dampak domestik dari mundurnya Perry Warjiyo.
Ia menilai bahwa posisi gubernur BI sangat krusial dalam menjaga kepercayaan investor terhadap kebijakan moneter nasional.
“Saya pikir pengunduran Pak Perry akan jadi sentimen negatif yang cukup besar,” ujarnya.
Fikri menambahkan bahwa ketidakpastian ini berisiko memicu depresiasi rupiah yang lebih dalam jika tidak segera diatasi dengan langkah komunikasi kebijakan yang solid.
Ia bahkan memperingatkan adanya potensi nilai tukar rupiah menembus level psikologis baru dalam waktu dekat.
“Di saat yang sama, saya khawatir rupiah bisa terdepresiasi ke Rp18.100 per dolar AS,” lanjutnya.
Investor kini menanti langkah strategis dari Destry Damayanti dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah masa transisi kepemimpinan ini.


