JAKARTA, Gonesia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan melanjutkan fase konsolidasi pada perdagangan Senin, 27 Juli 2026, menyusul kegagalan indeks menembus level resistensi psikologis pada akhir pekan lalu.
Kondisi pasar yang masih dibayangi tekanan jual membuat pelaku pasar harus bersiap menghadapi volatilitas tinggi di awal pekan ini.
Pada penutupan perdagangan Jumat (24/7/2026), IHSG tercatat melemah 118 poin atau 1,88% ke posisi 6.196,43.
Meskipun sempat mencatatkan kenaikan akumulatif tipis sebesar 0,34% dalam sepekan, performa tersebut dinilai belum cukup kuat untuk menopang tren kenaikan jangka panjang.
Praktisi Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai pergerakan IHSG esok hari masih berkutat dalam fase konsolidasi setelah indeks gagal mempertahankan momentum penguatannya.
Secara teknikal, kegagalan IHSG menembus area resistensi kuat di level 6.377 menjadi indikator utama bahwa tekanan jual masih mendominasi pasar saat ini.
“Selama IHSG belum mampu ditutup secara meyakinkan di atas level 6.377 dengan didukung peningkatan volume transaksi, maka ruang penguatan diperkirakan masih terbatas dan potensi koreksi masih lebih besar dibandingkan peluang melanjutkan tren kenaikan,” ujar Hendra kepada Kontan, Minggu (26/7/2026).
Kegagalan breakout tersebut kini memicu kekhawatiran akan aksi ambil untung atau profit taking yang lebih masif dalam jangka pendek.
Jika tekanan jual terus berlanjut, IHSG diproyeksikan akan menguji area Moving Average 20 (MA20) di kisaran level 6.009 sebagai support dinamis krusial.
Ia menambahkan, apabila level support tersebut gagal dipertahankan, maka indeks berisiko terkoreksi lebih dalam menuju level psikologis 5.900.
“Oleh karena itu, pergerakan IHSG dalam beberapa hari ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan indeks bertahan di atas area support tersebut,” tuturnya.
Selain faktor teknikal, sentimen eksternal berupa eskalasi geopolitik di Timur Tengah juga memberikan tekanan berat bagi pasar saham domestik.
Konflik tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global, yang pada akhirnya mendorong harga minyak dunia mendekati level US$ 100 per barel.
Ekspektasi kenaikan inflasi global akibat lonjakan harga energi tersebut membuat ruang bagi bank sentral Amerika Serikat, The Fed, untuk menurunkan suku bunga menjadi semakin sempit.
“Sentimen tersebut turut memicu koreksi di mayoritas bursa saham Asia, dengan pelemahan tajam terjadi di Korea Selatan, Jepang, Taiwan, hingga China yang memberikan tekanan tambahan terhadap pergerakan IHSG,” katanya.
Di sisi lain, depresiasi nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar AS turut memperburuk sentimen negatif bagi investor.
Pelemahan mata uang lokal ini meningkatkan risiko penarikan modal asing dari aset-aset di negara berkembang, termasuk pasar saham Indonesia.
Derasnya arus keluar dana asing tercermin dari aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai Rp 1,2 triliun pada perdagangan Jumat lalu.
Secara akumulatif selama sepekan, investor asing telah mencatatkan net sell sekitar Rp 2,5 triliun dari Bursa Efek Indonesia.
“Selama arus dana asing belum kembali masuk secara konsisten, peluang penguatan IHSG diperkirakan masih akan relatif terbatas,” ujarnya.
Ia memproyeksikan rentang pergerakan IHSG pada perdagangan Senin akan berada di kisaran 6.009 hingga 6.300.
“Investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga global, pergerakan nilai tukar rupiah, serta arus dana asing sebagai katalis utama yang akan menentukan arah pergerakan IHSG dalam beberapa waktu ke depan,” pungkasnya.


