IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Implementasi B50 Berpotensi Hapus Impor Solar Namun Beban Subsidi Tetap Menantang

Pipa penyaluran bahan bakar biodiesel di fasilitas distribusi energi nasional.
Implementasi biodiesel B50 diproyeksikan mampu menghentikan impor solar nasional.

JAKARTA, Gonesia.com – Implementasi mandatori biodiesel B50 diproyeksikan mampu menghentikan ketergantungan impor solar nasional sekaligus menekan defisit neraca perdagangan migas secara signifikan.

Kebijakan pencampuran 50 persen fatty acid methyl ester (FAME) ke dalam solar fosil ini digadang-gadang mampu menghemat devisa negara hingga Rp 170 triliun setiap tahun.

Namun, penghentian impor solar tersebut tidak serta-merta menjamin penurunan beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, menegaskan bahwa isu ketahanan energi dan efisiensi fiskal merupakan dua ranah yang berbeda.

“Karena itu, penghentian impor belum tentu langsung mengurangi beban APBN,” ungkap Herry dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (26/7).

Tekanan Geopolitik dan Impor Bayangi Rupiah di Awal Pekan 27 Juli

Ia menjelaskan bahwa besarnya subsidi energi tetap sangat bergantung pada harga keekonomian BBM dan fluktuasi harga minyak mentah dunia.

Faktor lain yang turut menentukan beban fiskal adalah nilai tukar rupiah, volume penyaluran bahan bakar, hingga skema insentif biodiesel yang diterapkan pemerintah.

Catatan defisit neraca perdagangan migas Indonesia sendiri terus menunjukkan tren yang mengkhawatirkan sejak tahun 2012 silam.

Defisit yang tercatat sebesar US$ 5,6 miliar pada 2012 melonjak drastis mencapai US$ 19,7 miliar pada tahun 2025 lalu.

Bahkan, pada periode Januari hingga Mei 2026, defisit sektor migas sudah menyentuh angka US$ 12,3 miliar.

Ketidakpastian Ekonomi Tekan Peringkat Kredit Korporasi Indonesia di 2026

Impor solar menjadi penyumbang utama defisit tersebut, dengan total impor mencapai 48 juta ton senilai US$ 30,3 miliar selama kurun waktu 2016 hingga 2025.

Di tengah tekanan tersebut, konsumsi diesel nasional terus menunjukkan peningkatan yang konsisten setiap tahunnya.

Data Kementerian ESDM mencatat konsumsi diesel naik dari 29,9 juta kiloliter pada 2020 menjadi 39,2 juta kiloliter pada 2024.

Simulasi NEXT Indonesia Center menunjukkan bahwa program B50 membutuhkan pasokan FAME hingga 18,8 juta kiloliter per tahun.

Artinya, Indonesia harus menambah kapasitas produksi FAME sebanyak 5,6 juta kiloliter atau naik 42,6 persen dari kapasitas saat ini.

Promo Pre-order Samsung Galaxy Foldable 8 dengan BRI Kartu Kredit

“Kapasitas produksi FAME menjadi kunci keberhasilan program B50. Tanpa peningkatan pasokan yang memadai, target menghentikan impor solar akan sulit diwujudkan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan program ini tidak boleh hanya diukur dari penghentian impor fisik solar semata.

Negara harus memastikan efisiensi biaya, keberlanjutan pasokan bahan baku, serta manfaat fiskal yang nyata bagi kas negara.

Pemerintah juga diingatkan agar tidak membiarkan penghematan devisa justru tergerus oleh beban insentif yang membengkak.

Kesiapan infrastruktur distribusi dan industri sawit nasional menjadi prasyarat mutlak agar transisi menuju B50 tidak memicu gangguan pasokan di masa depan.

Komentar