Jakarta, Gonesia.com — Pasar saham di seluruh Asia mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Senin (27/7/2026) seiring dengan meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Sentimen positif ini dipicu langsung oleh anjloknya harga minyak mentah dunia yang memberikan ruang napas bagi pelaku pasar dari kekhawatiran inflasi.
Penurunan harga komoditas energi tersebut sekaligus mendorong kenaikan pada harga obligasi global.
Meredanya tensi di Selat Hormuz menyebabkan harga minyak Brent terkoreksi sebesar 5,2% ke level US$ 91,73 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat mencatatkan penurunan sebesar 5,4% ke posisi US$ 84,45 per barel.
Kepala Ekonom NAB Group, Sally Auld, dalam laporan Kontan menyatakan bahwa dinamika di Timur Tengah menunjukkan arah yang lebih konstruktif dibandingkan akhir pekan lalu.
Ia menambahkan bahwa perkembangan tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa harga minyak di atas level US$ 100 per barel cenderung memicu kedua belah pihak untuk menahan diri dari konflik terbuka.
Meski demikian, ancaman terhadap stabilitas pasokan energi belum sepenuhnya hilang dari radar investor.
Laporan menyebutkan bahwa kelompok Houthi di Yaman yang berafiliasi dengan Iran masih melancarkan serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi di sepanjang pesisir Laut Merah.
Kondisi geopolitik yang lebih tenang ini berdampak langsung pada ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed.
Pasar mulai menurunkan proyeksi kenaikan suku bunga acuan menjelang rapat kebijakan yang akan digelar pada Rabu (29/7/2026) mendatang.
Meskipun terdapat ketidakpastian tinggi, sebagian besar analis memprediksi bahwa Ketua The Fed, Kevin Warsh, kemungkinan besar tidak akan mendukung pengetatan moneter lebih lanjut.
Data inflasi bulan Juni yang menunjukkan perlambatan menjadi argumen utama bagi para pengambil kebijakan untuk menahan diri.
Selain agenda bank sentral, perhatian pasar kini bergeser pada musim laporan keuangan emiten teknologi raksasa di Amerika Serikat.
Indeks S&P 500 diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan laba mencapai 26,5% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Investor secara khusus memantau besaran belanja modal yang digelontorkan perusahaan untuk pengembangan kecerdasan buatan atau AI.
Ketidakpastian biaya investasi dalam proyek AI menjadi perhatian setelah mencuatnya kabar dukungan pendanaan Nvidia bagi OpenAI untuk pembangunan pusat data.
Selain itu, pasar obligasi merespons positif dengan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebesar 4 basis poin menjadi 4,63%.
Kondisi ini secara langsung meningkatkan daya tarik emas sebagai aset aman, yang terpantau naik 1,4% ke level US$ 4.110 per ons.
Indeks saham di kawasan regional turut merespons tren positif ini, dengan Nikkei Jepang naik 0,4% dan indeks saham Korea Selatan menguat 0,6%.


