JAKARTA, Gonesia.com – Nilai tukar rupiah diprediksi akan terus mengalami fluktuasi tajam pada perdagangan awal pekan ini, Senin (21/9/2026), akibat kombinasi tekanan geopolitik global dan ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pasar saat ini tengah berada dalam posisi waspada terhadap eskalasi konflik yang bergeser ke wilayah strategis seperti Laut Merah dan Selat Al-Mandeb.
Posisi mata uang Garuda pada penutupan akhir pekan lalu tercatat melemah tipis 0,03% ke level Rp 17.758 per dolar AS di pasar spot.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia justru mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,05% ke posisi Rp 17.745 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas dari Kontan, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa dinamika geopolitik menjadi faktor dominan yang membayangi stabilitas rupiah saat ini.
Ia menyoroti bahwa ketegangan kini tidak lagi terpusat di Selat Hormuz, melainkan telah meluas ke kawasan Laut Merah yang vital bagi jalur perdagangan internasional.
“Yang pertama adalah faktor geopolitik. Yang kedua adalah kebijakan politik di Amerika pasca menantikan pemilu sela di bulan November. Kemudian, kebijakan Bank Sentral Amerika,” ujar Ibrahim pada Minggu (20/9/2026).
Ibrahim menambahkan bahwa aktivitas diplomatik yang melibatkan kekuatan besar seperti China juga turut menambah kompleksitas situasi di kawasan tersebut.
Menurutnya, Menteri Luar Negeri China Wang Yi telah secara eksplisit mendesak Washington dan Teheran untuk menahan diri demi memulihkan aksesibilitas Selat Hormuz.
Di sisi lain, keterlibatan aktif Iran melalui konsultasi diplomatik dengan China dan Pakistan menunjukkan bahwa risiko konflik masih menjadi perhatian utama investor global.
Selain ancaman geopolitik, stabilitas rupiah juga sangat dipengaruhi oleh suhu politik domestik di Amerika Serikat menjelang pelaksanaan pemilu sela atau midterm election pada November mendatang.
Persaingan tajam antara Partai Republik dan Partai Demokrat dinilai berpotensi menciptakan ketidakpastian tambahan di pasar keuangan global yang berdampak langsung pada aliran modal keluar dari pasar berkembang.
Terkait kebijakan moneter, pasar masih terus memantau arah suku bunga The Federal Reserve yang diprediksi masih memiliki ruang untuk terus menanjak hingga penghujung tahun 2026.
Ibrahim mengungkapkan bahwa data proyeksi dari 18 anggota The Fed menunjukkan mayoritas suara, yakni 16 anggota, menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan ini diproyeksikan akan terus berlangsung hingga akhir Desember 2026 mendatang.
Selain faktor eksternal, pelaku pasar saat ini juga mulai mengalihkan fokus pada agenda domestik yakni Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan pada 22–23 September 2026.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa antisipasi investor terhadap hasil rapat tersebut akan menjadi katalis utama bagi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang konsolidasi yang cukup sempit, yakni antara Rp 17.700 hingga Rp 17.800 per dolar AS pada hari ini.
Proyeksi senada juga disampaikan Ibrahim yang menilai volatilitas akan tetap tinggi dengan rentang pergerakan rupiah di kisaran Rp 17.750 hingga Rp 17.800 per dolar AS.
Investor kini menantikan sinyal kebijakan lebih lanjut dari otoritas moneter Indonesia dalam merespons tekanan dolar AS yang masih perkasa.


