Jakarta, Gonesia.com – Keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22–23 September 2026 menjadi penentu utama arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini.
Pelaku pasar saat ini menanti langkah otoritas moneter dalam merespons tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta kebijakan terbaru bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Kondisi pasar modal domestik kini tengah dalam tekanan setelah pada perdagangan Jumat (18/9/2026) IHSG ditutup melemah 0,33% ke level 6.441,159.
Aksi jual oleh investor asing menjadi sorotan utama setelah mencatatkan net sell sebesar Rp1,79 triliun pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu.
Sentimen negatif tersebut dipicu oleh langkah The Fed yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4%.
Saham-saham sektor perbankan dengan kapitalisasi besar turut merasakan dampak koreksi pasar tersebut.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan penurunan harga sebesar 2,07%, sementara PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) terkoreksi 2,41%.
Tidak ketinggalan, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masing-masing melemah 0,79% dan 0,60%.
Co-Founder Pasardana & Pengamat Pasar Modal Hans Kwee menyatakan bahwa Bank Sentral Indonesia masih memiliki ruang untuk menahan BI Rate apabila inflasi terjaga.
“Pasar saat ini cenderung memproyeksikan BI Rate tetap, tetapi BI tetap harus menyeimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas rupiah dengan upaya mempertahankan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya kepada Kontan.
Ia menambahkan, opsi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin tetap terbuka lebar jika tekanan terhadap mata uang rupiah semakin menguat.
Menurutnya, pasar berpotensi merespons positif jika suku bunga dipertahankan, terutama pada sektor konsumer, properti, dan perbankan.
Sebaliknya, kenaikan suku bunga dapat memicu tekanan jangka pendek bagi emiten properti, otomotif, dan perbankan skala menengah.
“Jika BI Rate naik 25 bps, pasar bisa mengalami knee-jerk reaction. Namun, apabila disertai pernyataan optimistis mengenai stabilitas Rupiah, pasar berpotensi cepat berbalik arah,” lanjutnya.
Senada dengan pandangan tersebut, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata memproyeksikan skenario dasar BI adalah mempertahankan suku bunga di level 5,75%.
Meski demikian, ia mengingatkan adanya risiko kenaikan suku bunga menuju 6% jika pelemahan rupiah menyentuh level Rp18.000 per dolar AS.
Secara teknikal, Kiwoom menempatkan level support IHSG di angka 6.375 dan resistance di kisaran 6.550.
Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi menilai investor akan lebih mencermati forward guidance daripada sekadar angka suku bunga.
“Base case kami BI tahan di 5,75% dengan tone hawkish. Yang lebih ditunggu adalah forward guidance soal kapan BI akan merespons, bukan sekadar keputusan suku bunga bulan ini,” ucap Wafi.
Ia menyarankan investor untuk mengurangi agresivitas pada saham sektor infrastruktur dan properti yang memiliki leverage tinggi hingga ketidakpastian mereda.
Untuk strategi investasi, Liza menyarankan pendekatan selective accumulation pada saham perbankan besar yang memiliki likuiditas serta CASA yang kuat.
Selain BMRI dan BBCA, ia juga mencermati prospek saham BRIS berkat pertumbuhan laba bersih yang solid pada semester pertama tahun ini.


