IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Harga Emas Terkoreksi, Investor Waspadai Risiko Inflasi Hari Ini

Tumpukan logam mulia emas batangan dalam tampilan makro sebagai simbol investasi komoditas
Harga emas dunia mengalami tekanan jual pada perdagangan awal pekan, Senin (21/9/2026).

JAKARTA, Gonesia.com – Harga emas dunia mengalami tekanan jual pada perdagangan awal pekan ini, Senin (21/9/2026).

Data perdagangan menunjukkan harga emas untuk pengiriman Desember 2026 di Commodity Exchange berada di posisi US$ 4.309,10 per ons troi.

Angka tersebut mencatatkan pelemahan sebesar 0,36% jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan akhir pekan lalu yang menyentuh level US$ 4.424,90 per ons troi.

Meski terjadi koreksi, harga komoditas logam mulia ini terpantau masih bertahan cukup stabil di kisaran US$ 4.300 per ons troi.

Pergerakan harga ini dipengaruhi oleh sikap pelaku pasar yang tengah menimbang risiko inflasi berkelanjutan.

Laba Bersih Melonjak 800%, Saham Medco Energi (MEDC) Melesat Naik

Selain itu, investor juga sedang mencermati arah kebijakan suku bunga acuan pasca keputusan terbaru dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

Mengutip Bloomberg, sejumlah pembuat kebijakan di The Fed dijadwalkan akan memberikan pernyataan terbuka sepanjang pekan ini.

Agenda tersebut dilakukan menyusul keputusan resmi bank sentral untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan yang berlangsung 15-16 September lalu.

Ketidakpastian ekonomi global membuat pasar terus memantau setiap sinyal yang diberikan oleh para pejabat tinggi The Fed.

Pejabat Fed Minneapolis, Neel Kashkari, menegaskan bahwa tingkat inflasi saat ini masih berada di posisi yang cukup tinggi.

Rupiah Melemah ke Rp17.876 per Dolar AS, Terlemah di Asia Hari Ini

Ia menambahkan, tekanan inflasi tersebut bahkan telah meluas jauh melampaui dampak guncangan harga minyak akibat konflik di Iran.

“Inflasi yang dirasakan rakyat Amerika setiap hari jauh melampaui harga minyak. Inflasi terjadi di semua aspek ekonomi,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa masalah kenaikan harga konsumen bukan sekadar isu sektoral energi.

Kondisi ekonomi ini secara tidak langsung memperkuat spekulasi bahwa suku bunga tinggi akan dipertahankan dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Sentimen tersebut memberikan tekanan negatif bagi emas yang dikenal sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil atau non-yielding asset.

Analisis Saham TPIA di Tengah Kenaikan Harga Minyak dan Naphtha

Investor cenderung mengalihkan modal ke instrumen yang lebih menguntungkan saat suku bunga berada dalam tren kenaikan.

Koreksi tipis pada pagi hari ini mencerminkan sikap hati-hati pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih agresif ke depannya.

Hingga saat ini, pelaku pasar masih menanti rincian lebih lanjut dari pidato pejabat The Fed pekan ini untuk menentukan langkah investasi berikutnya.

Korelasi antara kebijakan moneter dan harga emas tetap menjadi fokus utama bagi para pelaku pasar komoditas global.

Stabilitas harga di kisaran US$ 4.300 menunjukkan masih adanya permintaan dasar bagi emas sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian.

Namun, penguatan dolar AS yang dipicu oleh ekspektasi suku bunga tinggi tetap menjadi tantangan utama bagi performa emas dalam waktu dekat.

Komentar

Berita Populer

01

Daftar Saham Baru Indeks KOMPAS100 dan Rekomendasi Analis Agustus 2026

02

YLKI Soroti Pemblokiran Rekening Bank Mandiri dan Ingatkan Hak Nasabah

03

Cara Mudah Beli Paket Data Semua Operator Lewat Aplikasi GoPay

04

UMK 2026: Daftar Lengkap Wilayah dengan UMK Tertinggi & Terendah

05

Akselerasi Dekarbonisasi Industri Indonesia Melalui RUEN 2026–2035

06

Purbaya Nilai Jakarta Tak Perlu Terbitkan Obligasi untuk Pembangunan Infrastruktur

07

Proyeksi Kinerja ANTM Tetap Kuat di Tengah Bayang Risiko Regulasi

08

Profil Ikhwan Ali Tanamal, Debutan Gemilang Persib Bandung Lawan Arema FC

Berita Terbaru