IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Dampak Vietnam Masuk Indeks Emerging Market FTSE bagi Saham Indonesia

Grafik pergerakan pasar saham dan simbol investasi yang mencerminkan dinamika bursa efek
Perubahan status Vietnam menjadi pasar berkembang dalam indeks FTSE memicu kekhawatiran terkait aliran modal asing di pasar modal Indonesia.

JAKARTA, Gonesia.com – Kenaikan status Vietnam menjadi pasar berkembang atau emerging market dalam klasifikasi FTSE Russell per Selasa, 22 September 2026, kini memicu kekhawatiran baru bagi dinamika investasi di pasar modal Indonesia.

Perubahan klasifikasi ini diprediksi bakal mengubah arah aliran modal asing di kawasan Asia secara signifikan.

Pasar saham Vietnam yang sebelumnya berada di kategori pasar perbatasan atau frontier market kini resmi naik kelas.

Langkah ini diperkirakan akan memicu proses rebalancing dana asing dari sejumlah manajer investasi yang mengikuti indeks FTSE.

Estimasi awal menunjukkan potensi aliran modal masuk atau inflow ke pasar Vietnam bisa mencapai US$ 6 miliar secara bertahap.

IHSG Rawan Terkoreksi, Simak Rekomendasi Saham TPIA, EMAS, AMRT, dan ISAT

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyatakan bahwa fenomena ini menjadi tantangan serius bagi Indonesia dalam menjaga kepercayaan investor global.

Ia menjelaskan bahwa keberhasilan Vietnam menembus status baru tersebut didorong oleh pembenahan mendasar pada ekosistem pasar modal mereka.

“Vietnam naik kelas karena ada perbaikan pada aksesibilitas dan infrastruktur pasar, termasuk penghapusan sistem prefunding bagi investor asing dan perbaikan mekanisme penyelesaian transaksi,” kata Alrich kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

Namun, ia menegaskan bahwa kenaikan status ini lebih mencerminkan perbaikan aksesibilitas pasar, bukan berarti kualitas bursa Vietnam otomatis melampaui Indonesia.

Walaupun demikian, ia mengakui bahwa Vietnam kini memiliki keunggulan kompetitif berupa katalis tambahan dari inklusi indeks yang berpotensi menarik dana pasif.

VICO Bagikan Dividen Rp8 per Saham, Yield Lampaui Bunga Deposito BCA

Menurutnya, Indonesia saat ini sangat membutuhkan langkah konkret untuk memperkuat kepercayaan investor melalui reformasi pasar yang lebih konsisten.

Risiko terjadinya tekanan arus keluar atau outflow di pasar saham domestik tetap menjadi poin yang harus diwaspadai oleh para pelaku pasar.

Kendati demikian, pergerakan dana asing tersebut dinilai tidak selalu berlangsung secara linear atau serentak dari seluruh sektor.

Investor institusi asing disebut lebih cenderung melakukan strategi selective selling serta rotasi aset ketimbang keluar sepenuhnya dari pasar Indonesia.

Saham berkapitalisasi besar dengan likuiditas tinggi seperti BBCA, BMRI, dan BBRI menjadi aset yang paling sensitif terhadap proses penyesuaian portofolio ini.

IHSG Anjlok 1,68% ke 6.277, Cek Daftar Saham yang Dilepas Asing

Data menunjukkan bahwa sepanjang tahun berjalan, total dana asing yang telah keluar dari pasar saham Indonesia mencapai Rp 74,36 triliun.

Di tengah situasi tersebut, kawasan Asia tetap menjadi destinasi utama bagi investor global meski dengan pemilihan yang sangat selektif.

Faktor utama yang menjadi pertimbangan investor saat ini meliputi valuasi harga, prospek pertumbuhan laba emiten, hingga kemudahan akses pasar.

Alrich mencontohkan bagaimana Taiwan dan Korea Selatan mampu mempertahankan daya tarik melalui sektor teknologi dan kecerdasan buatan.

Sementara itu, Vietnam kini muncul sebagai pesaing baru yang menawarkan katalis struktural pasca-reklasifikasi oleh FTSE Russell.

“Jadi, kompetisinya bukan sekadar antarnegara, tetapi antar-market yang mampu menawarkan risk-adjusted return paling menarik,” ujarnya.

Komentar

Berita Populer

01

Daftar Saham Baru Indeks KOMPAS100 dan Rekomendasi Analis Agustus 2026

02

YLKI Soroti Pemblokiran Rekening Bank Mandiri dan Ingatkan Hak Nasabah

03

Cara Mudah Beli Paket Data Semua Operator Lewat Aplikasi GoPay

04

UMK 2026: Daftar Lengkap Wilayah dengan UMK Tertinggi & Terendah

05

Akselerasi Dekarbonisasi Industri Indonesia Melalui RUEN 2026–2035

06

Purbaya Nilai Jakarta Tak Perlu Terbitkan Obligasi untuk Pembangunan Infrastruktur

07

Proyeksi Kinerja ANTM Tetap Kuat di Tengah Bayang Risiko Regulasi

08

Profil Ikhwan Ali Tanamal, Debutan Gemilang Persib Bandung Lawan Arema FC

Berita Terbaru