BEIJING, Gonesia.com – Cina mencatatkan rekor volume impor emas tertinggi sepanjang sejarah hingga Agustus 2026 dengan total pembelian melampaui 1.000 ton.
Data bea cukai terbaru menunjukkan angka tersebut telah melampaui total akumulasi impor emas Negeri Tirai Bambu sepanjang tahun 2025.
Lonjakan permintaan ini didorong secara signifikan oleh kombinasi penurunan harga emas di pasar internasional serta tren penguatan nilai tukar yuan.
Kondisi ekonomi tersebut menciptakan peluang strategis bagi para importir untuk meningkatkan aktivitas pembelian logam mulia secara masif.
Analis di Jinrui Futures Co mencatat bahwa tingginya minat investasi domestik membuat harga emas di Cina tetap berada di atas harga acuan dunia.
“Yuan terus menguat sejak awal tahun ini, menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi impor emas serta memungkinkan regulator untuk memberikan kuota persetujuan yang lebih besar,” kata Wu.
Ia menambahkan bahwa kebijakan perizinan baru yang diterapkan sejak Juni tahun ini turut memotivasi perbankan untuk memaksimalkan kuota impor dari People’s Bank of China (PBOC).
Langkah tersebut menjadi stimulus penting bagi bank-bank lokal untuk segera menghabiskan alokasi kuota yang telah diberikan oleh otoritas moneter.
Selain sektor perbankan, minat investor ritel dan institusi terhadap instrumen emas juga menunjukkan peningkatan tajam sepanjang tahun.
Berdasarkan laporan Shanghai Gold Exchange, dana yang diperdagangkan di bursa atau ETF emas di Cina telah menambah kepemilikan sebesar 44 ton hingga Agustus.
Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 18% sejak awal tahun, sebuah capaian yang kontras dengan kondisi ETF global yang cenderung stagnan.
Sentimen positif di pasar ritel ini semakin diperkuat dengan aksi pembelian berkelanjutan yang dilakukan oleh bank sentral Cina.
PBOC tercatat melakukan volume pembelian emas terbesar sejak 2023 pada Agustus lalu, memperpanjang tren akumulasi yang telah berlangsung hampir dua tahun.
Aksi beli masif oleh bank sentral ini secara psikologis turut mendongkrak kepercayaan investor individu untuk mengalihkan aset mereka ke dalam bentuk logam mulia.
Cina saat ini tetap memegang posisi sebagai pembeli emas terbesar di dunia di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Terbatasnya pilihan instrumen investasi yang menjanjikan di dalam negeri menjadikan emas sebagai aset pelindung nilai (safe haven) yang paling diminati.
Momentum pembelian besar-besaran ini sudah terlihat sejak awal tahun saat harga emas mengalami koreksi dari rekor tertinggi pada Januari.
Para investor memanfaatkan momentum penurunan harga tersebut untuk melakukan aksi beli dalam skala besar.
Tren ini diprediksi akan terus berlanjut seiring dengan kebutuhan diversifikasi portofolio di tengah volatilitas pasar keuangan yang masih membayangi.
Secara fundamental, ketergantungan Cina terhadap impor emas mencerminkan upaya strategis untuk memperkuat cadangan aset negara maupun sektor swasta.
Keberhasilan regulator dalam mengelola kuota impor juga menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas pasokan emas domestik.
Dengan data hingga Agustus yang sudah menembus angka 1.000 ton, pasar emas global kini menyoroti bagaimana Cina akan merespons fluktuasi harga di sisa kuartal terakhir tahun 2026.


