IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp17.876 per Dolar AS, Terlemah di Asia Hari Ini

Grafik pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang melemah di pasar spot
Nilai tukar Rupiah melemah ke level Rp17.876 per Dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa, 22 September 2026.

JAKARTA, Gonesia.com – Nilai tukar rupiah di pasar spot mencatatkan kinerja terburuk di kawasan Asia pada pembukaan perdagangan Selasa, 22 September 2026.

Mata uang Garuda dibuka melemah ke level Rp 17.876 per dolar Amerika Serikat (AS).

Posisi ini merefleksikan koreksi sebesar 0,16% dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.847 per dolar AS.

Data pasar yang dipantau oleh Kontan menunjukkan bahwa tekanan jual terhadap mata uang domestik berlangsung intens sejak menit-menit awal sesi pagi.

Hingga pukul 09.00 WIB, pergerakan mata uang di Asia terpantau variatif dengan kecenderungan melemah secara kolektif.

Laba Bersih Melonjak 800%, Saham Medco Energi (MEDC) Melesat Naik

Yen Jepang menjadi mata uang berikutnya yang mengalami tekanan dengan penurunan sebesar 0,1% terhadap dolar AS.

Sentimen negatif juga membayangi yuan China yang tercatat terkoreksi tipis sebesar 0,03%.

Kondisi serupa dialami oleh baht Thailand dan dolar Singapura yang masing-masing tergelincir sebesar 0,02%.

Dolar Hong Kong pun tidak luput dari tren pelemahan, meskipun hanya terkoreksi sangat tipis sebesar 0,005% terhadap the greenback.

Di sisi lain, dinamika pasar mata uang regional menunjukkan anomali yang cukup kontras.

Analisis Saham TPIA di Tengah Kenaikan Harga Minyak dan Naphtha

Won Korea Selatan justru tampil sebagai mata uang dengan penguatan paling signifikan di Asia setelah melonjak sebesar 1%.

Dolar Taiwan turut menunjukkan performa positif dengan kenaikan nilai tukar sebesar 0,18%.

Selain itu, peso Filipina mencatatkan penguatan sebesar 0,12% di pasar spot pagi ini.

Ringgit Malaysia juga berhasil bertahan di zona hijau meski hanya mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,02%.

Analis pasar melihat pelemahan rupiah ini dipicu oleh sentimen eksternal yang masih mendominasi pergerakan dolar AS secara global.

Borong Saham KETR Harga Diskon, Dua Direksi Raih Cuan 367,5%

Ketidakpastian kebijakan moneter di negara-negara maju terus memberikan beban tambahan bagi mata uang negara berkembang.

Faktor perbedaan tingkat suku bunga acuan menjadi salah satu variabel kunci yang memengaruhi arus modal keluar dari pasar domestik.

Investor cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan asetnya di tengah fluktuasi indeks dolar AS yang masih cukup tinggi.

Kondisi ekonomi domestik kini dituntut untuk memberikan stabilitas lebih agar tidak semakin tergerus oleh penguatan dolar AS yang berkelanjutan.

Pelaku pasar saat ini tengah menunggu rilis data ekonomi lanjutan untuk melihat potensi pembalikan arah atau konsolidasi nilai tukar.

Pemerintah dan otoritas moneter diharapkan mampu menjaga likuiditas valuta asing di dalam negeri agar depresiasi tidak semakin dalam.

Stabilitas rupiah menjadi krusial di tengah upaya menjaga daya beli masyarakat dan inflasi yang dipengaruhi oleh biaya impor.

Pantauan pasar akan terus difokuskan pada pergerakan nilai tukar hingga penutupan perdagangan sore nanti untuk melihat apakah ada intervensi atau sentimen baru yang mampu memulihkan posisi mata uang nasional.

Komentar

Berita Populer

01

Daftar Saham Baru Indeks KOMPAS100 dan Rekomendasi Analis Agustus 2026

02

YLKI Soroti Pemblokiran Rekening Bank Mandiri dan Ingatkan Hak Nasabah

03

Cara Mudah Beli Paket Data Semua Operator Lewat Aplikasi GoPay

04

UMK 2026: Daftar Lengkap Wilayah dengan UMK Tertinggi & Terendah

05

Akselerasi Dekarbonisasi Industri Indonesia Melalui RUEN 2026–2035

06

Purbaya Nilai Jakarta Tak Perlu Terbitkan Obligasi untuk Pembangunan Infrastruktur

07

Proyeksi Kinerja ANTM Tetap Kuat di Tengah Bayang Risiko Regulasi

08

Profil Ikhwan Ali Tanamal, Debutan Gemilang Persib Bandung Lawan Arema FC

Berita Terbaru