JAKARTA, Gonesia.com – Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 6,78% ke level Rp 1.575 per lembar pada awal perdagangan Selasa, 22 September 2026.
Performa positif di lantai bursa ini dipicu oleh rilis laporan keuangan semester I-2026 yang menunjukkan lonjakan laba bersih hingga hampir 800%.
Berdasarkan data yang dihimpun Kontan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai US$ 275,32 juta sepanjang enam bulan pertama tahun ini.
Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan fantastis sebesar 796,5% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang hanya menyentuh US$ 30,71 juta.
Peningkatan laba tersebut didorong oleh kenaikan pendapatan perusahaan yang mencapai US$ 1,41 miliar.
Realisasi pendapatan itu tumbuh 23,35% dibandingkan dengan perolehan pada semester I-2025 yang tercatat sebesar US$ 1,15 miliar.
Manajemen perusahaan menyatakan bahwa lonjakan laba bersih ini seiring meningkatnya produksi minyak dan gas, dan membaiknya harga minyak dunia serta kontribusi Amman Mineral setelah operasi smelter berjalan secara penuh.
Selain itu, efisiensi operasional juga menjadi kunci keberhasilan kinerja keuangan perusahaan.
Biaya kas produksi minyak dan gas tercatat tetap terjaga di level US$ 8,4 per barel setara minyak.
Angka tersebut berada di bawah panduan biaya operasional yang telah ditetapkan untuk tahun ini.
Dari sisi operasional, perusahaan berhasil mempertahankan volume produksi migas di angka 170 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD).
Capaian produksi tersebut dinilai sesuai dengan target panduan yang telah dipasang untuk tahun 2026.
Kontribusi sektor gas tercatat mendominasi dengan menyumbang sekitar 72% dari total produksi keseluruhan.
Keberhasilan ini didukung oleh optimalisasi kinerja di sejumlah blok migas strategis milik perusahaan.
Peningkatan volume produksi terjadi di Blok Corridor seiring dengan tambahan hak partisipasi.
Kinerja produksi yang solid juga terlihat pada Lapangan Forel dan Terubuk di South Natuna Sea Block B.
Proyek pengeboran pengembangan lapangan Bualuang di Thailand turut memberikan dampak positif terhadap output produksi.
Selain itu, penyelesaian proyek Bisat C di Blok 60 Oman menjadi faktor pendukung lainnya.
Kontribusi produksi penuh dari proyek Senoro Fase 2A juga tercatat memberikan dorongan signifikan bagi kinerja operasional.
Dalam laporan tersebut, posisi utang konsolidasi perusahaan hingga akhir Juni tercatat sebesar US$ 4,13 miliar.
Perusahaan saat ini memegang kas dan setara kas dengan nilai mencapai US$ 1,4 miliar.
Rasio utang bersih terhadap EBITDA untuk ‘Restricted Group’ juga tetap terjaga dengan baik.
Angka rasio tersebut berada di posisi 1,4 kali, jauh di bawah panduan internal yaitu 2,5 kali.
Parameter tersebut dihitung berdasarkan asumsi harga minyak pada level mid-cycle sebesar US$ 65 per barel.
Secara keseluruhan, EBITDA perusahaan tercatat sebesar US$ 805 juta dengan laba kotor mencapai US$ 588 juta pada semester pertama tahun ini.


