Bintaro – Kesalahpahaman masyarakat mengenai tumor otak kerap memicu ketakutan berlebih, padahal deteksi dini dan kemajuan teknologi medis saat ini memungkinkan penanganan yang jauh lebih efektif. Dokter Spesialis Bedah Saraf, dr. Moch. Evodia Slamet R, Sp.BS, menekankan bahwa tidak semua tumor otak bersifat ganas. Berdasarkan data internasional, sekitar 72 persen tumor otak primer justru bersifat jinak, sementara sisanya bersifat ganas.
Meski demikian, dr. Evodia menegaskan bahwa status jinak bukan berarti tumor tersebut dapat diabaikan. Mengingat ruang di dalam tengkorak kepala sangat terbatas, kehadiran massa tumor—baik jinak maupun ganas—dapat menekan jaringan otak dan mengganggu fungsi vital tubuh.
“Tumor otak terdiri dari dua kelompok utama, yakni tumor primer yang berasal dari jaringan otak atau selaput otak, serta tumor sekunder atau metastasis yang merupakan penyebaran dari kanker organ lain seperti payudara, paru, atau tiroid,” ujar dr. Evodia dalam kegiatan Media Gathering bertajuk “Tumor Otak dan Tatalaksananya” di RS Premier Bintaro.
Penting bagi masyarakat untuk mengenali gejala klinis yang muncul sebagai peringatan awal. Gejala tersebut meliputi nyeri kepala kronis yang kian memberat disertai pandangan kabur, kejang pada usia dewasa, gangguan keseimbangan, kelemahan anggota gerak, penurunan pendengaran, hingga perubahan kepribadian. Dalam kondisi ekstrem, tumor dapat menyebabkan muntah menyemprot dan penurunan kesadaran yang merupakan kondisi gawat darurat.
Terkait prosedur diagnostik, dr. Evodia menjelaskan bahwa pemeriksaan standar seperti CT Scan atau MRI dengan kontras sangat krusial. Penggunaan kontras bertujuan agar gambaran tumor dapat terlihat secara optimal dibandingkan pemeriksaan tanpa kontras. Diagnosis yang akurat menjadi kunci utama dalam menentukan langkah medis selanjutnya.
RS Premier Bintaro kini menyediakan layanan penanganan tumor otak secara komprehensif dan multidisiplin. Beberapa metode yang tersedia meliputi terapi medikamentosa untuk meredakan pembengkakan, tindakan bedah saraf baik secara terbuka, mikroskopik, maupun endoskopik, hingga radioterapi dan kemoterapi.
Salah satu inovasi yang ditonjolkan adalah Gamma Knife Radiosurgery. Prosedur ini menjadi solusi bagi tumor berukuran kecil karena tidak memerlukan sayatan operasi. Teknik ini memanfaatkan radiasi terfokus yang dilakukan dalam satu kali tindakan, sehingga pasien tidak mengalami luka pascabedah.
Pihak rumah sakit terus berupaya meningkatkan literasi kesehatan agar masyarakat tidak lagi menunda pemeriksaan ketika merasakan gejala neurologis yang bersifat progresif. Langkah proaktif dalam memeriksakan diri sedini mungkin dinilai sebagai faktor krusial dalam meningkatkan peluang keberhasilan terapi. Dengan teknologi medis yang semakin mutakhir, penanganan tumor otak kini dapat dilakukan dengan lebih aman dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi pasien. Kesadaran akan pentingnya diagnosa awal diharapkan dapat menekan angka komplikasi berat akibat keterlambatan penanganan medis.

