Yogyakarta – Aktivitas Gunung Merapi masih tinggi setelah awan panas guguran tercatat meluncur ke arah selatan pada Sabtu malam. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebut peristiwa itu terjadi saat gunung aktif di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut terus menunjukkan suplai magma yang berlanjut.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso mengatakan awan panas guguran teramati pada pukul 20.34 WIB. Jarak luncurnya diperkirakan mencapai 2.000 meter mengarah ke selatan melalui alur Kali Boyong.
“ Awan panas guguran terjadi pada pukul 20.34 WIB dengan estimasi jarak luncur 2.000 meter mengarah ke selatan atau alur Kali Boyong,” kata Agus dalam keterangannya.
Dari hasil pencatatan instrumen, guguran itu memiliki amplitudo maksimum 48,66 mm. Durasi kegempaan tercatat berlangsung 129,64 detik.
Pada periode pengamatan Minggu (27/9) pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, aktivitas kegempaan Merapi masih didominasi gempa guguran dan gempa hybrid atau fase banyak. Tercatat 9 kali gempa guguran, 35 kali gempa hybrid, dan 1 kali gempa tektonik jauh.
Secara visual, gunung terlihat jelas dengan asap kawah putih bertekanan lemah yang mencapai ketinggian 100 meter di atas puncak. Petugas juga mengamati 3 kali guguran lava pijar dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter ke arah Kali Boyong.
Status Gunung Merapi hingga saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. BPPTKG mengimbau masyarakat agar tidak beraktivitas di wilayah yang masuk dalam potensi bahaya, mengingat pasokan magma masih terus terjadi.
Potensi ancaman itu meliputi sektor selatan-barat daya, yakni Sungai Boyong hingga maksimal 5 kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga maksimal 7 kilometer. Di sektor tenggara, ancaman mencakup Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh maksimal 5 kilometer.
Selain itu, lontaran material vulkanik saat erupsi eksplosif juga dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak. Warga diminta tetap waspada terhadap lahar dingin, awan panas guguran, terutama ketika hujan turun di kawasan lereng Merapi, serta potensi gangguan abu vulkanik.


