Yogyakarta – Konferensi Republik di Gadjah Mada University Club ditutup dengan mandat kepada Sudirman Said sebagai ketua umum panitia dan Yanuar Nugroho sebagai sekretaris jenderal untuk segera melanjutkan agenda forum lewat rapat kerja. Forum ini juga didorong menghasilkan gagasan yang lebih konkret, termasuk sebuah Buku Putih yang memuat arah ekonomi pro-rakyat dan pro-lingkungan.
Sudirman menekankan bahwa peran masyarakat sipil tidak boleh berhenti pada lingkar diskusi semata. Ia mengatakan, masyarakat sipil justru harus membangun jembatan dengan berbagai unsur, termasuk politisi, tentara, dan polisi, agar setiap keputusan negara berbasis data dan bukti.
“Tugas sejati masyarakat sipil adalah membangun jembatan dan bersedia berhubungan dengan elemen mana saja, baik politisi, tentara dan polisi, sehingga ketika keputusan dalam negara diambil, argumennya berbasis data dan bukti,” kata Sudirman dalam keterangannya, Sabtu 30 Mei 2026.
Yanuar Nugroho menegaskan forum ini tidak sekadar ajang berkumpul dan bertukar wacana. Menurut dia, yang menyatukan para peserta bukan struktur organisasi, melainkan keresahan yang sama dari berbagai penjuru masyarakat sipil.
“Ini bukan kegelisahan segelintir aktivis. Ini kegelisahan kolektif seluruh masyarakat sipil yang tersebar di berbagai wilayah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konferensi yang menghadirkan tujuh panel dan puluhan narasumber itu diselenggarakan secara mandiri. Ratusan Civil Society Organization (CSO) terlibat dalam kolaborasi tanpa sponsor.
“Seluruh proses dijalankan bersama melalui semangat gotong royong. Para pembicara hadir secara self-funded sebagai wujud nyata solidaritas untuk republik,” kata Yanuar.
Dari sisi substansi, Bhima Yudhistira dari CELIOS menilai konferensi ini lebih dari sekadar seremoni peralihan peran. Ia menyebut forum tersebut sebagai kerja panjang untuk menyatukan gagasan-gagasan progresif yang selama ini tercerai-berai akibat lemahnya kepemimpinan kolektif.
“Ini kerja maraton untuk mengonseptualisasikan gagasan progresif yang selama ini terfragmentasi akibat minusnya kepemimpinan kolektif,” kata Bhima.
Bhima menambahkan, forum ini perlu melahirkan keluaran yang nyata, bukan berhenti pada pernyataan bersama. Ia mengusulkan penyusunan Buku Putih yang merumuskan imajinasi ekonomi yang berpihak pada rakyat dan lingkungan, dengan mencontoh Mandate for Leadership yang pernah menjadi fondasi kebijakan di Amerika Serikat.

