Makkah – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memastikan pasokan makanan bagi jemaah haji Indonesia selama fase penting ibadah di Tanah Suci sudah disiapkan dengan jadwal yang ketat. Konsumsi dari dapur-dapur penyedia makanan di Makkah akan mulai kembali masuk ke hotel jemaah pada 7, 8, dan 13 Dzulhijjah 1447 H, atau bertepatan dengan 24, 25, dan 30 Mei 2026.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji Kemenhaj, Jaenal Effendi, mengatakan distribusi makanan siap santap ke seluruh hotel jemaah Indonesia ditargetkan sudah berjalan pada 6 Dzulhijjah 1447 H atau 23 Mei 2026. Untuk itu, Kemenhaj terus menggelar pengecekan rutin dan rapat koordinasi agar seluruh kebutuhan konsumsi bisa terpenuhi tepat waktu.
“Dari dapur akan didistribusikan ke seluruh hotel yang ada. Mudah-mudahan ini bisa berjalan dengan baik, sehingga jemaah kita bisa tenang dalam melakukan ibadah. Masih ada sampai tanggal 6 nanti untuk menyiapkan segala sesuatunya,” kata Jaenal, dikutip Minggu, 17 April 2026.
Jaenal menjelaskan, perhatian utama Kemenhaj saat ini adalah menjaga agar layanan makanan tetap lancar sebelum, saat, dan sesudah puncak haji. Karena itu, pasokan di hotel harus sudah siap sebelum jemaah bergerak menuju rangkaian Armuzna.
Puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina akan dimulai pada 8 Dzulhijjah 1447 H atau Senin, 25 Mei 2026. Pada fase ini, jemaah haji akan bergerak dari Makkah ke Arafah untuk melaksanakan wukuf.
Selama jemaah berada di Armuzna, tepatnya dari 8 Dzulhijjah siang hingga 13 Dzulhijjah pagi, penyediaan konsumsi akan diambil alih oleh pihak syarikah atau perusahaan layanan haji di Arab Saudi. Dua penyedia yang disebut adalah Rakeen Mashariq dan Albait Guest. Setelah jemaah kembali ke hotel, suplai makanan dari dapur-dapur Makkah akan kembali dilanjutkan.
Kemenhaj juga menyiapkan menu bernuansa Indonesia untuk menjaga kenyamanan jemaah. Jaenal menyebut sajian yang dihadirkan akan didominasi cita rasa nusantara agar bisa mengobati rindu pada kampung halaman saat menjalani ibadah di Makkah.
“Menunya tentu cita rasa Indonesia, khas. Ada rendang, ada telurnya, macam-macam,” ujarnya.
Untuk menjaga konsistensi rasa dan kualitas, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi akan memantau penggunaan bahan baku hingga keterlibatan juru masak asal Indonesia di dapur-dapur penyedia makanan. Langkah ini diambil agar seluruh jemaah benar-benar mendapat menu nusantara sesuai standar yang diharapkan.
Jaenal pun menekankan pentingnya kekompakan dalam penyelenggaraan haji tahun ini. “Karena ini tahun pertama penyelenggaraan ibadah haji oleh Kemenhaj, mohon agar solid,” pungkasnya.

