Washington D.C. – Titik krusial dalam relasi Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin dekat. Gencatan senjata sementara yang telah berjalan selama dua minggu akan berakhir pada Rabu (22/5), tanpa kejelasan apakah perundingan lanjutan akan digelar atau justru konflik kembali berkobar.
Gencatan senjata ini sebelumnya disepakati pada 8 Mei, setelah lebih dari 40 hari konflik intensif. Namun, upaya diplomasi di Islamabad, Pakistan, belum membuahkan hasil signifikan.
Iran disebut-sebut enggan melanjutkan negosiasi akibat tekanan militer dan ancaman dari AS.
Di sisi lain, AS tetap optimistis perundingan dapat berlanjut, meski sinyal keras justru datang dari Presiden Donald Trump.
Trump menegaskan tidak berminat memperpanjang gencatan senjata jika belum ada kesepakatan konkret.
“Saya tidak mau melakukan itu. Kita tidak punya banyak waktu,” tegas Trump dalam wawancara dengan CNBC pada Selasa (21/5).
Trump mengklaim posisi negosiasi AS saat ini kuat dan yakin akan menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan.
Namun, ia memperingatkan bahwa serangan militer bisa kembali dilancarkan jika Iran tidak segera menyetujui kesepakatan.
“Saya berharap akan melakukan pengeboman karena saya pikir itu adalah sikap yang lebih baik untuk diterima. Tapi kami siap untuk berangkat. Maksudku, militer sedang bersemangat untuk pergi,” ujarnya, dikutip dari Reuters.
Perundingan di Islamabad dipimpin oleh Wakil Presiden AS, JD Vance.
Meski Washington yakin Iran akan hadir, pejabat Teheran masih mempertimbangkan keikutsertaan mereka.
Iran menilai negosiasi berlangsung di bawah “bayang-bayang ancaman”, terutama akibat blokade laut AS dan pernyataan keras Trump.
Situasi ini membuat peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat menipis.
Mendekati tenggat waktu, analis memetakan empat kemungkinan yang dapat terjadi setelah gencatan senjata berakhir:
1. Kesepakatan Sementara (Interim Deal): Skenario paling optimistis. Kedua pihak menyepakati nota kesepahaman sementara untuk memperpanjang waktu diplomasi, fokus pada pertukaran konsesi nuklir dengan pelonggaran sanksi. Isu pengayaan uranium Iran menjadi hambatan utama.
2. Gencatan Diperpanjang Tanpa Kesepakatan: Negosiasi buntu, tetapi kedua pihak memilih memperpanjang gencatan senjata demi menghindari perang terbuka. Situasi tetap rapuh dan berisiko memicu konflik sewaktu-waktu.
3. Tanpa Kesepakatan, Tapi Juga Tanpa Perang: Jika perundingan gagal, kedua pihak menahan diri dari eskalasi langsung. Iran memperkuat hubungan dengan Tiongkok dan Rusia, sementara AS mempertahankan blokade. Kondisi “tidak perang, tidak damai” ini berpotensi mengguncang pasar energi global.
4. Gencatan Gagal, Perang Kembali Meletus: Skenario terburuk. Jika gencatan berakhir tanpa perpanjangan atau kesepakatan, konflik militer bisa langsung kembali terjadi. Trump mengancam menyerang infrastruktur vital Iran, sementara Teheran memperingatkan akan membuka “kartu baru” di medan perang. Eskalasi ini berisiko meluas ke Timur Tengah, termasuk Lebanon, Irak, hingga Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb.
Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah perundingan akan berlangsung sebelum tenggat waktu. Analis menilai peluang tercapainya kesepakatan penuh dalam waktu singkat cukup kecil.
Dua kemungkinan yang paling realistis adalah perpanjangan gencatan senjata secara rapuh atau kegagalan total yang memicu kembali konflik terbuka.
Dunia kini menunggu dalam hitungan jam, apakah diplomasi masih punya ruang, atau perang kembali menjadi pilihan.

