Berita

DPR Desak TVRI Transparan Soal Anggaran Hak Siar Piala Dunia

dpr-minta-tvri-transparansi-soal-anggaran-hak-siar-piala-dunia
DPR Minta TVRI Transparansi Soal Anggaran Hak Siar Piala Dunia

Jakarta – Anggota Komisi VII DPR RI Andhika Satya Wasistho meminta TVRI berbenah di tengah penurunan pagu indikatif yang diterima pada tahun ini. Ia menilai lembaga penyiaran publik itu harus lebih cermat mengelola anggaran dan mencari sumber pendanaan baru agar tetap bisa menjalankan fungsi layanan publik secara optimal.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat terkait pembahasan RKA-KL dan RKP-KL Tahun Anggaran 2027 di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Menurut Andhika, TVRI tidak bisa diperlakukan layaknya media komersial. Ia menegaskan, TVRI punya mandat untuk melayani masyarakat melalui penyediaan informasi, pendidikan, budaya, serta menjaga perekat persatuan bangsa.

“TVRI sebagai lembaga penyiaran publik memiliki fungsi pelayanan masyarakat. TVRI bukan media komersial yang berorientasi keuntungan, melainkan penyedia informasi, pendidikan, budaya, sekaligus perekat persatuan bangsa,” kata legislator Fraksi Partai Golkar itu.

Andhika juga menekankan bahwa negara harus memastikan akses informasi merata, termasuk bagi warga di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Karena itu, jika ada tambahan anggaran, ia meminta prioritasnya diarahkan ke penguatan infrastruktur penyiaran dan percepatan transformasi digital.

BI Naikkan Suku Bunga, Stabilkan Rupiah dan Kendalikan Inflasi

Ia menilai modernisasi pemancar dan peningkatan kualitas jaringan di daerah yang belum menikmati siaran digital secara memadai sudah mendesak dilakukan. Selain itu, TVRI diminta mempercepat digitalisasi proses produksi dan memperbaiki mutu siaran daerah agar manfaatnya benar-benar dirasakan publik.

Dalam forum itu, Andhika juga menyoroti biaya hak siar Piala Dunia yang disebut mencapai 80 juta dolar AS. Angka tersebut, menurut dia, jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lain, seperti Thailand yang mengeluarkan 40 juta dolar AS dan Malaysia 35 juta dolar AS.

Ia meminta TVRI membuka penjelasan secara lengkap mengenai dasar perhitungan biaya tersebut. Transparansi, kata dia, penting untuk mencegah pemborosan anggaran negara sekaligus menghindari persoalan hukum di kemudian hari.

“Jangan sampai nantinya ini terkesan seperti ada pemborosan, dan ke depan bisa jadi ada permasalahan terkait hal tersebut. Transparansi harus menjadi perhatian,” ujarnya.

Selain itu, Andhika mendorong TVRI meningkatkan kontribusi Penerimaan Negara Bukan Pajak atau PNBP yang saat ini berada di kisaran Rp400 miliar. Ia berharap lembaga tersebut berinovasi lebih agresif untuk memperkuat pendapatan operasional tanpa meninggalkan tugas utamanya sebagai penyedia layanan publik yang berkualitas.

DPR RI Perkuat Perlindungan Desain UMKM dan Inovasi

Komentar

Berita Populer

01

KCIC Tambah Enam Perjalanan Whoosh, Arus Balik Bandung-Jakarta Padat

02

DSI Perkuat Tata Kelola Ekspor dan Devisa Nasional

03

Strategi ANTM Perkuat Pasar Domestik di Tengah Rencana Ekspor BUMN

04

Kejagung Geledah Kantor BGN Pusat Jakarta Usai Ganti Pimpinan

05

Warga Jakarta Berbondong-Bondong Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan

06

Aher Apresiasi Dukcapil Hentikan Fotokopi e-KTP Demi Data Pribadi

07

Purbaya Tekankan Pancasila dalam Kelola Keuangan Negara

08

Harga Avtur Turun, Mengapa Surcharge Tiket Pesawat Tetap Tidak Berubah?

Berita Terbaru