Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tren pelemahan setelah ditutup terkoreksi 32 poin ke level Rp17.794 per dolar AS pada perdagangan Kamis (18/6). Tekanan pasar keuangan domestik yang tinggi membuat mata uang Garuda sempat terperosok hingga 60 poin di sepanjang sesi perdagangan, meskipun Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah antisipatif melalui kenaikan suku bunga acuan.
Data Bloomberg menunjukkan pelemahan ini terjadi dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp17.764 per dolar AS. Kondisi pasar yang volatil dipicu oleh sikap wait and see pelaku pasar yang cenderung menahan diri dalam mengambil posisi transaksi besar.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa investor global dan sejumlah institusi keuangan saat ini tengah menunggu dua keputusan krusial dari MSCI. Ketidakpastian mengenai status Indonesia di indeks emerging market menjadi faktor utama yang membatasi aliran dana masuk ke pasar domestik.
Ibrahim menjelaskan, investor sedang menanti kejelasan mengenai potensi pencabutan pembekuan penambahan konstituen saham baru di Indonesia oleh MSCI. Sebelumnya, MSCI sempat membekukan penambahan tersebut karena adanya kekhawatiran terkait transparansi free float serta struktur kepemilikan saham di dalam negeri.
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia secara resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 18-19 Juni 2026. Selain itu, BI juga melakukan penyesuaian pada suku bunga Deposit Facility menjadi 4,75% dan Lending Facility menjadi 6,50%.
Kebijakan pengetatan moneter ini bertujuan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah agar tidak terdepresiasi lebih dalam. Langkah tersebut juga diarahkan untuk menjaga sasaran inflasi tahun 2026-2027 tetap berada di kisaran target pemerintah sebesar 2,5±1%.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari kebijakan proaktif BI sebelumnya. Pada RDG mingguan tanggal 9 Juni 2026, BI secara mengejutkan juga telah menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Dengan demikian, otoritas moneter telah menaikkan suku bunga acuan sebesar total 75 basis poin dalam kurun waktu kurang dari satu bulan.
Namun, efektivitas pengetatan moneter domestik masih terbentur oleh sentimen eksternal yang kuat. Dolar AS terpantau tetap perkasa di pasar global seiring dengan kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve, yang mempertahankan suku bunga pada level 3,50%-3,75%.
The Fed juga memberikan sinyal bahwa ruang untuk pengetatan moneter lanjutan masih terbuka lebar hingga akhir tahun. Proyeksi terbaru menunjukkan sembilan dari 19 pejabat bank sentral AS memperkirakan setidaknya terdapat satu kali kenaikan suku bunga tambahan di sepanjang tahun 2026.
Sikap hawkish bank sentral AS tersebut dipertegas oleh pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh. Ia menegaskan komitmen lembaganya untuk terus mengendalikan laju inflasi guna memulihkan stabilitas harga di pasar Amerika Serikat, yang pada gilirannya terus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

