Jakarta – Dolar Amerika Serikat melemah setelah data ketenagakerjaan Juni menunjukkan perlambatan tajam, ditambah revisi turun untuk dua bulan sebelumnya. Kondisi itu membuat pasar kembali menunda ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan bunga acuan pada September kini berada di kisaran 45 persen. Sentimen tersebut ikut menekan indeks Dolar AS yang mengukur kekuatannya terhadap sekeranjang mata uang utama.
Pada perdagangan terakhir, indeks itu turun 0,2 persen ke posisi 100,83. Sepanjang sepekan, pelemahannya mencapai 0,5 persen dan menjadi koreksi mingguan terdalam sejak awal April.
Tekanan pada greenback memberi ruang bagi mata uang lain untuk menguat. Euro ditutup naik 0,5 persen dalam sepekan ke level 1,1440 Dolar AS.
Poundsterling tampil lebih kuat lagi. Mata uang Inggris itu mencatat performa mingguan terbaik dalam tiga bulan terakhir setelah menguat 1,1 persen ke 1,3352 Dolar AS.
Yen Jepang juga ikut menguat setelah sempat tertekan. Mata uang tersebut berhasil menjauh dari titik terlemah dalam 40 tahun di level 162,84 dan bergerak ke bawah area 161 per Dolar.
Meski begitu, pelaku pasar masih mencermati pergerakan Dolar AS dan Yen Jepang. Risiko intervensi dari Tokyo tetap membayangi, terutama saat likuiditas pasar menipis akibat libur Hari Kemerdekaan AS.

