Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual masif pada perdagangan Rabu (24/6), hingga terperosok ke level di bawah 6.000. Indeks ditutup melemah signifikan sebesar 217 poin atau 3,56 persen ke posisi 5.883, setelah sempat dibuka menguat pada awal sesi perdagangan di level 6.160.
Data dari RTI menunjukkan total nilai transaksi harian mencapai Rp 15 triliun dengan volume perdagangan sebesar 26,6 miliar saham yang melibatkan 2.033.150 kali transaksi. Sentimen negatif mendominasi pasar, terlihat dari sebanyak 611 saham yang mencatatkan koreksi, sementara hanya 98 saham yang mampu bertahan di zona hijau, dan 104 saham lainnya stagnan.
Tekanan terhadap IHSG diperburuk oleh aksi lepas saham yang dilakukan oleh investor asing. Berdasarkan catatan Ajaib, terjadi arus keluar modal asing (net sell) sebesar Rp 1,2 triliun. Secara rinci, investor asing membukukan nilai pembelian sebesar Rp 4,1 triliun, namun melakukan penjualan saham dengan nilai mencapai Rp 5,3 triliun.
Koreksi tajam ini ditengarai dipicu oleh pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang meski menetapkan pasar modal Indonesia tetap dalam kategori Emerging Market, namun menyertakan sejumlah catatan kritis. Keputusan tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar mengenai tata kelola dan transparansi di bursa domestik.
Pengamat Pasar Modal, Reza Priyambada, menyebutkan bahwa investor institusional internasional kerap menyoroti masalah transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Selain itu, muncul kecurigaan di kalangan investor mengenai adanya perilaku perdagangan yang terkoordinasi atau tidak wajar.
“Artinya kemungkinan pelaku pasar, terutama investor asing, melihat tidak adanya transparansi siapa yang menggerakan saham,” ujar Reza saat dimintai keterangan terkait anjloknya indeks pada Rabu (24/6).
Selain faktor teknis dari MSCI, Reza menambahkan bahwa pelaku pasar saat ini tengah memantau secara ketat arah kebijakan pemerintah. Keraguan investor dipicu oleh berbagai isu domestik yang dinilai belum memberikan kepastian ekonomi bagi pasar.
Beberapa poin krusial yang menjadi perhatian investor meliputi efektivitas penanganan kasus korupsi, manajemen proyek strategis nasional seperti program MBG yang dinilai sarat permasalahan, serta sinkronisasi kebijakan antar lembaga negara. Investor juga menuntut adanya penguatan kebijakan fiskal yang bersinergi dengan kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
Lebih lanjut, Reza menyoroti bahwa pelaku pasar sangat memperhatikan langkah pemerintah dalam meningkatkan performa sektor riil. “Serta penguatan ekspor, peningkatan investasi dalam negeri, serta penguatan nilai tukar Rupiah tentunya menjadi perhatian pelaku pasar,” ucapnya.
Ketidakpastian terhadap kebijakan ekonomi tersebut menjadi beban tambahan bagi psikologi pasar di tengah tantangan global. Tanpa adanya pembenahan mendasar terkait transparansi bursa dan kejelasan arah kebijakan ekonomi, investor asing diprediksi akan tetap bersikap waspada dan cenderung menahan diri untuk melakukan aksi beli dalam skala besar pada perdagangan mendatang.

