IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

50 Tambang Belum Revisi RKAB, Begini Dampaknya ke Emiten Jasa Tambang

Pemandangan area pertambangan batu bara dengan alat berat yang beroperasi di lokasi tambang nasional.
Sebanyak 50 perusahaan tambang nasional masih menunggu persetujuan revisi RKAB per 10 September 2026.

JAKARTA, Gonesia.com – Sebanyak 50 perusahaan tambang nasional hingga kini masih terjebak dalam ketidakpastian administratif akibat belum disetujuinya revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) per 10 September 2026.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran serius bagi emiten jasa pertambangan yang sangat bergantung pada volume produksi klien untuk menjaga roda bisnis mereka.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Brigita Kinari, menegaskan bahwa keterlambatan ini lebih berdampak pada penundaan potensi kenaikan volume pekerjaan daripada merusak fondasi bisnis secara keseluruhan.

Ia menyatakan, pukulan paling telak bagi sektor ini sebenarnya sudah terjadi sejak awal tahun akibat pemangkasan kuota produksi batu bara nasional menjadi 600 juta ton, atau merosot 24% dibandingkan realisasi tahun 2025.

“Keterlambatan revisi RKAB lebih kami lihat sebagai penundaan upside volume, bukan kerusakan fundamental. Pukulan utamanya sudah terjadi lewat kuota batu bara 2026 sekitar 600 juta ton, turun sekitar 24% dari realisasi 2025,” ujar Brigita kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

Dampak Vietnam Masuk Indeks Emerging Market FTSE bagi Saham Indonesia

Mengingat waktu efektif operasional yang hanya tersisa sekitar 100 hari hingga penutupan tahun, tambahan kuota dari revisi RKAB diprediksi baru akan memberikan dampak signifikan pada kinerja keuangan tahun 2027.

Di sisi lain, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyoroti risiko nyata yang membayangi operasional kontraktor tambang akibat stagnasi produksi pelanggan tersebut.

Menurutnya, ketidakpastian ini berisiko menekan tingkat utilisasi alat berat serta tenaga kerja yang telah dipersiapkan kontraktor untuk menggarap proyek di lapangan.

Ia menambahkan, ketika produksi pelanggan tidak berjalan optimal, pendapatan dan margin kontraktor akan tergerus hebat karena perusahaan tetap harus menanggung beban biaya operasional tetap.

“Dampak utamanya adalah penurunan volume pekerjaan dan utilisasi alat, yang pada akhirnya dapat menekan revenue dan margin kontraktor karena sebagian biaya operasional tetap berjalan,” jelas Brigita.

Ajaib Kenalkan Instrumen Investasi ETF di Sekolah Pasar Modal Surabaya

Biaya depresiasi alat berat dan biaya siaga, lanjut Abida, tetap menjadi beban wajib yang harus dibayarkan perusahaan meskipun volume pengupasan lapisan tanah maupun pengangkutan batu bara mengalami penurunan.

Strategi diversifikasi kini menjadi instrumen penyelamat bagi emiten jasa pertambangan agar tidak terlalu bergantung pada satu komoditas atau satu pelanggan saja.

Brigita mengungkapkan bahwa langkah mitigasi utama yang harus diambil perusahaan adalah memperluas basis pelanggan serta melakukan diversifikasi komoditas untuk menjaga keseimbangan utilisasi alat.

Ia merekomendasikan kontraktor untuk melirik komoditas mineral kritis seperti tembaga, emas, dan nikel guna menciptakan sumber pertumbuhan baru di tengah pengetatan produksi batu bara termal.

Selain itu, kontrak jangka panjang dengan klausul volume minimum dianggap sebagai perisai efektif untuk menjaga visibilitas pendapatan di tengah ketidakpastian regulasi.

FLEI Business Show 2026 Hadirkan Pameran Waralaba Skala ASEAN di Jakarta

Untuk prospek jangka pendek, kinerja sektor jasa pertambangan diprediksi masih akan bergerak variatif hingga akhir tahun 2026, sangat bergantung pada kecepatan proses persetujuan RKAB masing-masing klien.

Namun, prospek tahun 2027 dinilai lebih menjanjikan seiring dengan potensi normalisasi volume produksi dan keberhasilan kontraktor dalam melakukan ekspansi ke sektor non-batu bara.

Emiten seperti PT United Tractors Tbk (UNTR) dinilai memiliki posisi lebih unggul karena skala bisnis yang luas serta diversifikasi pelanggan di berbagai komoditas.

Struktur bisnis yang terdiversifikasi tersebut membuat UNTR memiliki penyangga yang lebih kuat terhadap risiko konsentrasi RKAB dibandingkan kontraktor yang hanya mengandalkan satu komoditas.

BRI Danareksa Sekuritas pun memberikan rekomendasi beli untuk saham UNTR dengan target harga Rp30.600 per saham, didukung oleh arus kas bebas yang solid.

Komentar

Berita Populer

01

Daftar Saham Baru Indeks KOMPAS100 dan Rekomendasi Analis Agustus 2026

02

YLKI Soroti Pemblokiran Rekening Bank Mandiri dan Ingatkan Hak Nasabah

03

Cara Mudah Beli Paket Data Semua Operator Lewat Aplikasi GoPay

04

Akselerasi Dekarbonisasi Industri Indonesia Melalui RUEN 2026–2035

05

UMK 2026: Daftar Lengkap Wilayah dengan UMK Tertinggi & Terendah

06

Purbaya Nilai Jakarta Tak Perlu Terbitkan Obligasi untuk Pembangunan Infrastruktur

07

Proyeksi Kinerja ANTM Tetap Kuat di Tengah Bayang Risiko Regulasi

08

Profil Ikhwan Ali Tanamal, Debutan Gemilang Persib Bandung Lawan Arema FC

Berita Terbaru