Jakarta, Gonesia.com – Ekosistem bisnis korporasi besar di Indonesia mencatatkan rekor agresivitas sepanjang tahun 2026 melalui rangkaian aksi akuisisi bernilai jumbo yang merambah berbagai sektor strategis.
Data yang diolah dari keterbukaan informasi menunjukkan sedikitnya terdapat 20 transaksi akuisisi berskala besar yang melibatkan emiten papan atas di tanah air.
Dominasi konglomerat nasional terlihat jelas dalam daftar transaksi ini, mulai dari kelompok usaha Prajogo Pangestu, konsorsium Grup Salim–Bakrie, hingga jaringan Sinar Mas Group.
Sektor energi, pertambangan, kesehatan, telekomunikasi, hingga manajemen investasi menjadi sasaran utama dalam upaya perluasan aset dan diversifikasi pasar para taipan tersebut.
Salah satu sorotan utama jatuh pada manuver PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) yang akan mengubah struktur pengendaliannya melalui kemitraan dengan FrieslandCampina.
Jika kesepakatan ini terealisasi, FrieslandCampina akan menjadi pengendali baru ULTJ melalui skema penerbitan 7,9 miliar saham baru senilai Rp 2.150 per lembar.
Dana tersebut akan digunakan untuk mengambil alih 100% saham PT Frisian Flag Indonesia (FFI) melalui mekanisme inbreng dengan nilai transaksi mencapai Rp 14,57 triliun.
Di sisi lain, Prajogo Pangestu terus memperkuat posisinya melalui PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan mengakuisisi jaringan SPBU ExxonMobil di Singapura senilai Rp 17,82 triliun.
Ia juga melebarkan sayap ke sektor otomotif di Singapura dan Malaysia dengan mengakuisisi bisnis Cycle & Carriage senilai Rp 3,69 triliun.
Tidak berhenti di sana, entitas usaha Prajogo lainnya, PT Petrosea Tbk (PTRO), kini tercatat menggenggam 27,78% saham PT Singaraja Putra Tbk (SINI) milik Happy Hapsoro.
Manajemen PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dalam keterbukaan informasi BEI, Jumat (4/9), menegaskan ambisi mereka untuk menguasai kebijakan arah perusahaan di SINI.
“Rencana Pengambilalihan, maka CUAN (melalui entitas anaknya) akan menjadi pemegang saham terbesar pada SINI dan sekaligus memiliki pengendalian terhadap arah dan kebijakan perusahaan dan manajemen SINI,” tulis manajemen CUAN.
Sementara itu, Grup Salim–Bakrie melalui PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melakukan langkah strategis dengan mengakuisisi Loyal Metals senilai Rp 1 triliun.
Aksi ini didanai melalui pinjaman dari raksasa komoditas global, Glencore Australia Holdings Pty Limited.
Direktur Bumi Resources, R.A Sri Dharmayanti, menyatakan bahwa langkah ini diambil untuk mendukung target perusahaan dalam mendiversifikasi portofolio pendapatan.
Ia menambahkan, “Kesesuaian dengan strategi perseroan, akuisisi ini mendukung sasaran untuk mencapai bauran EBITDA dari kegiatan usaha non-batubara termal di atas 50% pada tahun 2031.”
Selain nama-nama besar tersebut, PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) turut mencatatkan akuisisi aset rumah sakit senilai Rp 9 triliun.
PT United Tractors Tbk (UNTR) juga memperkuat lini pertambangan emasnya dengan mengakuisisi tambang Doup senilai Rp 8,85 triliun.
Tren ini menunjukkan bahwa korporasi besar di Indonesia tengah beralih ke strategi ekspansi anorganik untuk mengamankan rantai pasok dan memperluas pangsa pasar di tengah tantangan ekonomi global yang dinamis.


