Jakarta – Masyarakat Indonesia kini menunjukkan pola konsumsi data seluler yang terkonsentrasi pada kisaran harga menengah, yakni Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per bulan.
Berdasarkan data survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2026, sebanyak 55,3% responden memilih rentang pengeluaran tersebut untuk memenuhi kebutuhan akses internet harian mereka.
Tren ini menegaskan mayoritas pengguna internet di tanah air lebih mengutamakan stabilitas koneksi dibandingkan sekadar mencari tarif termurah.
Data APJII mencatat sebanyak 70,4% responden lebih memilih paket internet dengan harga moderat yang menawarkan kestabilan jaringan yang memadai, ketimbang opsi layanan dengan harga sangat murah namun memiliki kecepatan terbatas atau layanan premium yang mahal.
“Masyarakat cenderung konsisten memilih paket internet pada rentang harga menengah. Hal ini membuktikan bahwa faktor kualitas jaringan menjadi prioritas utama yang memengaruhi tingkat kepuasan pengguna internet di Indonesia,” tulis laporan survei tersebut.
Dalam hal penggunaan perangkat, smartphone masih mendominasi sebagai instrumen utama akses internet dengan porsi mencapai 84,31%.
Mayoritas pengguna layanan seluler, yakni 84,7%, masih mengandalkan skema prabayar untuk mengelola pengeluaran bulanan mereka.
Fenomena ini tercermin di hampir seluruh operator besar di Indonesia. Pelanggan Telkomsel menduduki posisi teratas dengan 60,5% pengguna berada di kelompok pengeluaran Rp 50 ribu – Rp 100 ribu. Pola serupa juga terlihat pada pengguna Indosat Ooredoo Hutchison sebesar 57% dan pengguna XL Smart sebesar 59,2%.
Dari sisi pangsa pasar operator, Telkomsel memimpin dengan proporsi pengguna sebesar 37,9%, disusul oleh Indosat Ooredoo Hutchison sebesar 35,5%, dan XL Smart sebesar 26,7%.
Beralih ke sektor layanan internet tetap atau fixed broadband, survei APJII mencatat sebanyak 42,3% penduduk Indonesia telah beralih menggunakan layanan internet kabel di rumah.
Mayoritas pelanggan, sekitar 80,8%, mengeluarkan biaya langganan bulanan di kisaran Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu. Sebagian besar dari mereka, yakni 86,6%, memilih layanan internet tunggal tanpa adanya paket bundling tambahan.
IndiHome masih mendominasi pasar fixed broadband dengan pangsa pasar mencapai 47,3%.
Di posisi berikutnya terdapat iConnet dengan 13,8%, diikuti oleh MNC Play sebesar 4,7%, Biznet 3,3%, XL Home 3,1%, First Media 2,7%, dan MyRepublic 2,6%.
Terkait persepsi harga, sekitar 71,9% responden menilai bahwa biaya langganan internet rumah tetap stabil atau tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, bagi masyarakat yang belum menggunakan layanan fixed broadband, faktor utama yang menjadi penghambat adalah minimnya kebutuhan karena merasa akses internet seluler sudah mencukupi, dengan persentase 47,2%.
Selain itu, 32,9% responden lainnya beranggapan bahwa biaya langganan layanan internet rumah saat ini masih tergolong mahal bagi kantong mereka.

