Jakarta, Gonesia.com – Polda Metro Jaya secara tegas membantah rumor liar yang beredar di media sosial mengenai dugaan penembakan terhadap ajudan mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah.
Narasi yang menyebutkan bahwa ajudan tersebut tewas ditembak oleh orang misterius dan jasadnya menghilang dipastikan sebagai informasi bohong atau hoax.
Penyebaran informasi menyesatkan ini terpantau masif dilakukan oleh beberapa akun media sosial, salah satunya akun @kementerian_kurangajar.
Dalam unggahannya, akun tersebut menuliskan, “INFO A77, SETELAH PENJAGA RUMAHNYA FEBRIE TEWAS SECARA MISTERIUS. KONON AJUDANNYA FEBRIE DIDUGA TEWAS DITEMBAK OLEH ORANG MISTERIUS SAMPAI SEKARANG BELUM DITEMUKAN JASADNYA HILANG BEGITU AJA.”
Terkait desas-desus tersebut, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan pengecekan langsung ke lapangan.
Ia menegaskan bahwa kepolisian telah berkoordinasi dengan Polres Metro Jakarta Selatan untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.
“Sejauh ini kami sudah mengkonfirmasi dengan Kasat Reskrim Jakarta Selatan itu adalah hoax,” ungkap Budi.
Di sisi lain, Polda Metro Jaya kini tengah memusatkan perhatian pada kasus kematian seorang pria bernama Sutrimo yang ditemukan di Klinik Kecantikan Mordent, Jakarta Selatan.
Kasus ini menyita perhatian publik karena adanya dugaan kejanggalan pada kematian korban yang terjadi pada Kamis (23/7) lalu.
Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pada Minggu (26/7) untuk mengumpulkan bukti-bukti awal.
Pihak kepolisian mengakui bahwa informasi mengenai kematian Sutrimo justru pertama kali diperoleh dari pemberitaan media massa dan media sosial.
“Polda Metro Jaya mendapatkan informasi ini dari teman-teman media, dari informasi media online atau pun media sosial, termasuk media TV yang menyampaikan adanya dugaan atau pun berita meninggalnya seseorang yang dianggap tidak wajar,” kata dia pada Senin (27/7).
Meskipun belum menerima laporan resmi dari pihak keluarga, polisi tetap melakukan pendalaman karena lokasi penemuan jenazah berada di bawah wilayah hukum Polda Metro Jaya.
Budi menjamin bahwa kepolisian akan bersikap transparan terkait perkembangan investigasi kematian tersebut.
“Polda Metro Jaya pasti akan mendalami informasi sekecil apa pun, apalagi terkait tentang hilangnya nyawa seseorang. Apakah itu wajar atau tidak wajar, masih didalami. Pasti nanti kami akan sampaikan kepada teman-teman sekalian update terkini,” jelasnya.
Hingga saat ini, kepolisian belum bisa memberikan kesimpulan akhir mengenai hasil olah TKP di lokasi.
Petugas masih membutuhkan waktu untuk mengumpulkan keterangan saksi, dokumen, serta analisa forensik terkait kondisi jenazah.
“Masih didalami, makanya nanti kita melihat, karena selama ini beberapa waktu dari hari kemarin kami mendapatkan postingan-postingan foto, dokumen, itu kan harus ada pendalaman. Kami juga memberi ruang kepada keluarga korban yang masih dalam kondisi berduka,” ujarnya.
Kepolisian juga mengimbau pihak keluarga untuk segera melapor jika menemukan kejanggalan dalam peristiwa tersebut.
“Apabila memang keluarga korban merasa ada kejanggalan terhadap meninggalnya saudara S, ini bisa membuat laporan kepada Polda Metro Jaya. Dan itu (nanti) lebih projustisianya lebih tepat, lebih enak untuk kami melakukan pendalaman,” ujarnya.
Sebelumnya, jenazah Sutrimo dilaporkan ditemukan dalam kondisi mulut dan hidung berbusa, yang kemudian memicu spekulasi publik mengenai keterkaitannya dengan lingkungan kerja mantan Jampidsus Kejagung.


